Ilusi Raksasa Rp326 Triliun: Akankah Danantara Menjadi Temasek Indonesia atau Menuju Trap 1MDB?

Dr. Muhammad Kamal

Dalam konteks Danantara, pertanyaan penting bukan hanya siapa yang mengelola aset negara, tetapi aturan apa yang membatasi kewenangan pengelola tersebut. Kualitas institusi pada akhirnya menentukan apakah konsentrasi modal menghasilkan produktivitas atau meningkatkan peluang rent seeking.

Perspektif North membawa kita pada persoalan independensi keputusan investasi. Danantara harus mampu menolak proyek yang secara politik menarik tetapi secara ekonomi tidak layak.

Keputusan investasi harus didasarkan pada risk-adjusted return, arus kas, valuasi, biaya modal, risiko portofolio, dan manfaat publik yang dapat diukur. Jika setiap proyek berlabel strategis secara otomatis memperoleh modal, capital discipline akan kehilangan maknanya.

Danantara kemudian berisiko berubah dari pengelola investasi menjadi instrumen pembiayaan kebijakan di luar disiplin anggaran. Batas antara mandat pembangunan dan keputusan komersial karena itu harus ditetapkan secara eksplisit.

Oliver E. Williamson memberikan peringatan kedua melalui ekonomi biaya transaksi. Williamson (1985) menunjukkan bahwa struktur organisasi dapat mengurangi oportunisme dan biaya koordinasi, tetapi struktur tersebut juga dapat menciptakan hierarki dan biaya birokrasi baru.

Konsolidasi BUMN dapat menghapus duplikasi fungsi dan meningkatkan kekuatan negosiasi jika dirancang dengan tepat. Namun, konsolidasi yang terlalu dalam dapat memperpanjang rantai persetujuan dan memusatkan terlalu banyak informasi serta kewenangan pada kelompok kecil pengambil keputusan.

Struktur besar juga dapat menghasilkan information bottleneck ketika pengelola pusat tidak memahami karakter setiap industri secara memadai. Efisiensi Danantara karena itu harus dibuktikan melalui penurunan biaya transaksi, bukan hanya pengurangan jumlah entitas.

Risiko berikutnya berasal dari capital recycling yang justru menjadi salah satu strategi utama Danantara. Menggunakan keuntungan dari aset matang untuk membiayai investasi baru merupakan strategi investasi yang masuk akal.

Masalah muncul ketika perputaran modal berlangsung lebih cepat daripada kapasitas institusi melakukan due diligence. Tekanan untuk menunjukkan keberhasilan dapat mendorong organisasi mengejar proyek besar, transaksi lintas negara, dan akuisisi bergengsi tanpa pengujian risiko yang cukup.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Komentar

Loading...