Mengabdi Lewat Budaya, Menginspirasi lewat Karya

Oleh: Jainul Yusup
(Pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Unkhair & Ketua Panitia Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair)
Perjalanan sebuah institusi pendidikan tinggi bukan hanya tentang akumulasi tahun berdirinya, melainkan tentang seberapa jauh institusi tersebut mampu menanamkan akar di tengah masyarakat, menumbuhkan kesadaran kritis, serta merawat ingatan kolektif kebudayaan.
Memasuki usia ke-27 tahun, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (FIB Unkhair) berdiri sebagai sebuah manifestasi keteguhan akademik di kawasan timur Indonesia. Usia dua dekade lebih sedikit ini menandai sebuah fase kematangan di mana refleksi menjadi sama pentingnya dengan proyeksi masa depan.
Melalui mengusung tema Mengabdi Lewat Budaya, Menginspirasi lewat Karya, Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair tidak sekadar dimaknai sebagai perayaan seremonial tahunan.
Tema ini adalah sebuah manifesto moral, panggilan jiwa bagi seluruh sivitas akademika untuk kembali menengok mandat historis pendidikan tinggi: pengabdian yang berakar pada nilai-nilai kebudayaan lokal dan inspirasi yang diterjemahkan melalui kerja-kerja nyata serta karya intelektual.
Di tengah arus globalisasi yang sering kali mengikis identitas partikular, kehadiran fakultas budaya dituntut untuk menjadi benteng pertahanan sekaligus mercusuar peradaban.
Universitas Khairun, khususnya Fakultas Ilmu Budaya, tumbuh di atas tanah yang memiliki warisan sejarah dan kosmologi kebudayaan yang amat kaya, bumi Moloku Kie Raha, secara luas bukan hanya sekadar ruang geografis, melainkan sebuah laboratorium peradaban tempat interaksi global, perdagangan rempah-rempah dunia, serta dinamika geopolitik masa lalu berpusat selama berabad-abad.
Sebagai institusi pendidikan yang lahir dan berkembang di jantung sejarah ini, FIB Unkhair memikul tanggung jawab moral yang khas. Ilmu-ilmu humaniora dan sejarah di sini tidak bisa dipelajari hanya sebagai teks mati atau teori yang mengawang di ruang hampa. Kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat harus menyatu dengan denyut nadi kehidupan lokal.
Peran pengajar dan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya adalah menjadi jembatan antara masa lalu yang agung dan tantangan masa depan yang kompleks.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar