Merebut Kembali Ruang Hidup

Petra Wahyu Utama

Ruang Hidup yang Berkeadilan

Bagi masyarakat yang tinggal berdampingan dengan konsesi tambang dan sawit, ruang hidup bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber pangan, identitas budaya, dan warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Saat ruang hidup itu direbut melalui izin usaha, penggusuran, maupun pembakaran yang menghanguskan hutan dan ladang, maka yang hilang bukan hanya lahan tapi cara hidup yang telah terbentuk selama ratusan tahun.

Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah untuk mempercepat reforma agraria dan pengakuan terhadap hutan adat yang selama ini hanya sekedar menjadi wacana.

Pemetaan partisipatif bersama masyarakat adat dan penerbitan sertifikat hutan adat harus dilakukan secara serius agar tumpang tindih klaim antara negara, korporasi, dan warga bisa diselesaikan dengan basis data yang jelas.

Selanjutnya, moratorium dan evaluasi izin konsesi tambang serta sawit di wilayah rawan konflik dan rawan kebakaran perlu diperketat. Audit diperlukan terhadap perusahaan yang wilayah konsesinya berulang kali terbakar.

Pencabutan izin dan sanksi tegas harus benar-benar ditegakkan, bukan hanya menjadi ancaman di atas kertas.
Kebakaran hutan dan lahan tahun ini kembali mengingatkan bahwa persoalan ruang hidup di Indonesia tidak akan selesai hanya dengan pemadaman api.

Selama akar sengketa tanah, tambang, dan sawit dibiarkan tanpa penyelesaian yang berkeadilan, asap akan terus datang setiap tahun. Masyarakat sekitarlah yang menjadi orang terdampak pertama kali.

Selain asap dan limbah, mereka yang tidak memiliki keberdayaan ini bisa-bisa kehilangan ruang hidupnya untuk selamanya. Pemerintah harus lebih peka terkait masalah tambang dan sawit sejak mulai tahap perencanaan, hingga konflik sosial yang berpotensi terjadi.

"Kepekaan terhadap ruang hidup dalam kebijakan tambang dan sawit bukan soal menghambat pembangunan, melainkan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sumber daya alam tidak dibayar dengan hilangnya hak hidup masyarakat yang paling dekat dengan sumber dayanya itu sendiri."(*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...