Ternate Tanah Kaya Sejarah

Ketika Spanyol akhirnya terpukul mundur, badai yang jauh lebih dingin, licik, dan sistematis merangsek masuk: VOC Belanda!
Jika Portugis dan Spanyol datang dengan pedang terhunus di depan, Belanda datang menusuk dari belakang dengan meja birokrasi dan kontrak monopoli palsu.
Rempah-rempah Ternate dirampas paksa, pohon-pohon cengkeh ditebang (extirpatie) agar harganya jatuh di pasar Eropa, dan rakyat dipaksa berlutut kelaparan di atas tanah yang dulunya adalah lumbung kemakmuran dunia. Belanda mengira mereka bisa menjinakkan Ternate dengan rantai ekonomi dan tipu daya politik.
Ternate Melepaskan Belenggu: Merdeka atau Mati!
Mereka salah besar. Gen perlawanan yang diwariskan oleh para Momole purba dan Sultan Baabullah tidak pernah mati. Ia mengalir deras di setiap nadi pemuda Ternate!
Abad berganti, penderitaan rakyat berubah menjadi badai revolusi. Dari balik dinding-dinding istana yang ditekan kompeni hingga ke perkampungan nelayan dan lereng gunung, bisikan perlawanan berubah menjadi gelombang amarah yang dahsyat.
Rakyat Ternate menolak tunduk pada aturan kompeni. Mereka melawan lewat gerilya laut, penolakan upeti, hingga membakar semangat kebangsaan di seluruh daratan Maluku.
Perlahan tapi pasti, rantai-rantai belenggu kolonial yang mengikat erat digoyang hebat. Ternate merobek paksa cengkeraman penjajah, membuktikan bahwa kedaulatan bukan untuk diperjualbelikan, dan kemerdekaan adalah harga mati yang ditebus dengan nyawa.
Dari reruntuhan benteng musuh dan cucuran darah para pahlawan, Ternate berdiri tegak kembali—bukan sebagai jajahan, melainkan sebagai saksi abadi dari sebuah tanah yang menolak bertekut lutut di hadapan dunia!(*)



Komentar