Ternate Tanah Kaya Sejarah

Sering kali tanah-tanah perbatasan di kaki gunung menjadi medan sengketa berdarah ketika populasi mulai mendesak. Perdebatan sengit tentang nilai tukar barang dalam sistem barter sering berujung pada caci maki dan kecemburuan sosial yang membara.
Belum lagi urusan air bersih—urat nadi kehidupan yang mengalir dari mata air Gunung Gamalama—yang kerap diperebutkan dengan amarah ketika musim kemarau panjang membakar bumi, membuat warga lereng atas dan pesisir bawah saling jegal.
Dan yang paling menyulut api perpecahan: beban keamanan! Warga pesisir di garis depan merasa menjadi tumbal yang menanggung risiko paling mematikan tanpa pernah merasakan ketenangan, sementara saudara-saudara mereka di pedalaman gunung dianggap duduk tenang tanpa peduli!
Dan malapetaka itu benar-benar datang menghujam! Di saat api perselisihan internal antarkampung belum juga padam, lautan luas tiba-tiba menghitam oleh kedatangan monster-monster pengacau mereka adalah
kelompok bajak laut dan perompak ganas!
Mereka datang dengan kapal-kapal cepat, membawa pedang terhunus, membakar rumah-rumah panggung di pesisir, merampas hasil kebun, dan menyebar teror darah di Tobuleu dan Tabanga.
Pesisir Ternate menjerit dalam lautan api dan air mata! para perompak itu tertawa di atas penderitaan rakyat, mengira Ternate adalah mangsa empuk yang bisa dicabik-cabik karena mereka hidup tercerai-berai dan saling bertikai! Tetapi mereka salah besar!
Jeritan kesakitan rakyat pesisir akhirnya membakar nurani seluruh soa. Para tetua adat dari Tabona, Tubo, Tobuleu, dan Tabanga tersadar dari mimpi buruk egoisme. Dengan dada bergemuruh penuh amarah kepada musuh luar, mereka menghentikan segala percekcokan bodoh dan membanting meja perundingan!
Pada tahun 1257, dalam sebuah musyawarah sakral yang disaksikan oleh langit dan bumi Maluku, keempat kampung itu melebur menjadi satu kekuatan raksasa: konfederasi Moloku Kie Raha (Maluku Empat Gunung)!
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar