Ternate Tanah Kaya Sejarah

Sekembalinya ke Ternate, ia menanggalkan gelar Kolano yang berakar pada tradisi lama dan secara resmi mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Ternate!
Deklarasi ini bukan sekadar pergantian gelar di atas singgasana. Ini adalah sebuah revolusi kultural dan politik yang maha dahsyat! Sistem pemerintahan ditata ulang berbasis syariat Islam yang berpadu harmonis dengan adat istiadat leluhur, melahirkan sebuah filosofi abadi:
Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Hukum rimba dan perpecahan masa lalu dikubur dalam-dalam, digantikan oleh tatanan birokrasi istana yang teratur, hukum yang adil bagi setiap warga, serta hubungan diplomatik yang setara dengan imperium-imperium besar dunia Islam lainnya.
Namun semakin kuat Ternate dengan revolusi tersebut nampaknya ada ancaman yang datang dari luar kesultanannya, mereka adalah bangsa penjajah
Pada. Tahun 1512. Kapal-kapal berlayar tinggi merapat membawa Francisco Serão bersama gerombolannya. Sultan Ternate, dengan keluhuran budi khas rakyat Nusantara, menyambut mereka dengan tangan terbuka. Memberikan tempat, berbagi hasil bumi, menganggap mereka saudara. Tapi apa balasannya? Air susu dibalas air tuba!
Begitu menguasai jalur perdagangan, bangsa Portugis menampakkan tabiat aslinya sebagai bangsa serigala. Mereka bukan pedagang; mereka adalah penjajah berdarah dingin! Di tanah leluhur Ternate, mereka membangun benteng-benteng batu, menodongkan meriam tepat ke arah istana kesultanan, dan memperlakukan rakyat seolah budak di rumah sendiri.
Puncak dari segala biadab itu terjadi pada tahun 1570. Di dalam benteng mereka yang angkuh, secara licik dan pengecut, Sultan Khairun Jamil dibunuh!
Mereka pikir dengan membunuh sang Sultan, api Ternate akan padam? Bodoh! Darah Sultan Khairun justru menyiram bensin ke dalam kobaran amarah seluruh rakyat Maluku. Langit Ternate bergemuruh.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar