Halmahera Selatan Lumbung Ikan

Laut diperlakukan sebagai ruang bersama yang harus dijaga agar tidak kehabisan daya dukung. Nilai-nilai historis ini mengajarkan kita bahwa keberlanjutan adalah kunci utama dari predikat "lumbung". Lumbung yang dijarah secara serakah pada akhirnya akan kosong dan meninggalkan kehampaan.
Hari ini, ancaman terhadap status Halmahera Selatan sebagai lumbung ikan tidak hanya datang dari tata kelola niaga, melainkan juga dari degradasi lingkungan.
Praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bom ikan dan racun sianida oleh oknum tak bertanggung jawab, masih menjadi ancaman serius bagi terumbu karang yang merupakan rumah pembesaran (nursery ground) bagi ribuan spesies ikan.
Kerusakan terumbu karang di satu kawasan akan secara langsung menurunkan populasi ikan di kawasan sekitarnya dalam jangka panjang.
Di samping itu, dinamika pembangunan industri ekstraktif di daratan dan pulau-pulau sekitar Halmahera Selatan juga memberikan dampak turunan terhadap ekosistem pesisir. Sedimentasi, limbah operasional, dan perubahan lanskap pesisir berpotensi mencemari ruang tangkap nelayan tradisional.
Nelayan kini harus melaut lebih jauh ke tengah samudra karena area pesisir yang dulunya kaya ikan mulai sepi akibat perubahan kualitas air. Hal ini tentu meningkatkan biaya operasional solar dan risiko keselamatan melaut bagi nelayan berskala kecil.
Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, saya memandang bahwa laut Halmahera Selatan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan warisan kebudayaan dan ruang hidup kolektif, menjaga laut berarti menjaga kebudayaan pesisir Maluku Utara.
Ketika laut rusak dan ikan menghilang, bukan hanya perekonomian yang runtuh, tetapi juga tradisi, pengetahuan lokal, dan identitas kebaharian yang telah dipelihara selama ratusan tahun oleh nenek moyang kita akan berangsur-angsur punah tergerus zaman.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar