Dari Paris untuk Pencitraan

Hudan Irsyadi

Belum lagi jika wacana ini digoreng oleh legislatif dengan intrik-intrik politiknya. Mengingat bahwa di negeri ini sesuatu yang dianggap remeh-temeh bisa menjadi ramah-tamah tatkala digelinding dan dibenturkan.

Sekilas, pembelajaran Bahasa Prancis di Indonesia sebelum menjadi bahan diplomasi Bapak Presiden, sudah diajarkan di sekolah-sekolah, khususnya di tingkat SMA/SMK.

Namun seiring waktu berjalan dan beberapa kali pergantian kurikulum, pengajaran Bahasa Prancis mulai terpinggirkan.

Bahkan pada saat kurikulum yang ada sekarang yaitu kurikulum merdeka yang lebih ditekankan pada pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pun pengajaran Bahasa Prancis/asing itu, tidak mendapatkan tempat yang layak.

Ia lebih didorong sebagai mata pelajaran pilihan. Padahal kita tahu bahwa Bahasa Prancis mempunyai peran vital sebagai alat komunikasi yang digunakan saat sidang, konferensi internasional, dan negosiasi diplomatik.

Seharusnya presiden menyadari hal ini jauh sebelum ia melakukan kunjungan ke Prancis. Kenapa saya mengatakan ini hanya pencitraan, tersebab kunjungan kenegaraan Presiden ke Prancis di akhir Mei kemarin adalah yang ke-empat kali dalam kurung waktu satu tahun.

Tadinya saya berharap wacana sepakbola yang dijadikan bahan diplomatik, mengingat sepakbola Prancis dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...