Dari Paris untuk Pencitraan

Hudan Irsyadi

Tak tanggung-tanggung dalam pidatonya yang menyebutkan kunjungan ke Prancis yang sudah berulang kali semasa ia Presiden adalah bentuk dari penegasan hubungan yang istimewa dengan Prancis yang terasa wajar. Padahal jika ditelisik, ini adalah bentuk dari konstruksi politik yang disengaja.

Dalam analisis kritis wacana, ia tidak mengajarkan kita untuk melihat apa yang tidak dikatakan, atau apa yang disampaikan.

Seperti saat bapak Presiden menginstruksikan Bahasa Prancis diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia, maka dalam bingkai pencitraan pernyataan ini adalah bentuk dari sang presiden menampilkan kuasanya.

Mengingat bahwa kebijakan untuk merubah kurikulum nasional tidak bisa didasarkan atas efek kunjungan kenegaraan presiden.

Hal tersebut tentu sangat kontradiktif dengan wacana yang ingin dibangun dengan realitas birokrasi. Perlu diketahui bahwa wacana yang dibangun tidak selalu berjalan satu arah. Ia selalu bermata dua. Yang pertama lebih pada hal yang substantive, sedangkan yang kedua lebih pada pencitraan.

Oleh karena, kunjungan kenegaraan presiden Prabowo di Prancis dengan berpidato yang menginstruksikan penagajaran Bahasa prancis di sekolah-sekolah di Indonesia merupakan sebuah bangunan pencitraan untuk memosisikan dirinya dengan jajaran elit Eropa. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...