Pancasila: Negara Memperingati, Rakyat Memperingatkan

Syamsul Bahri Abd. Rasyid

Akan ada kelompok-kelompok nyaman yang dipaksa berbagi ruang dengan mereka yang selama ini hanya kebagian janji. Bayangkan jika “kerakyatan” sungguh-sungguh dijalankan.

Kekuasaan tidak akan mudah anti kritik. Demonstrasi tidak akan dianggap gangguan rutin. Aktivis tidak akan diposisikan seperti musuh negara hanya karena terlalu keras mengingatkan pemerintah.

Tetapi demokrasi memang sering hanya dicintai selama ia tidak mengganggu kenyamanan kekuasaan. Karena itu, negara lebih nyaman memperingati Pancasila daripada menghidupinya. Memperingati jauh lebih mudah daripada menjalankan. Upacara hanya membutuhkan podium. Tetapi keadilan membutuhkan keberanian.

Yang menarik, justru rakyat kecil sering kali menjadi tempat paling jujur bagi hidupnya nilai-nilai Pancasila. Di kampung-kampung, orang masih saling membantu ketika tetangga terkena musibah.

Di lorong-lorong sempit kota, warga masih urunan membantu biaya pengobatan. Di daerah-daerah terpencil, solidaritas sosial kadang tumbuh lebih tulus daripada pidato para elite.

Ironi terbesar republik ini mungkin adalah: rakyat yang paling jarang mengutip Pancasila justru sering paling setia mempraktikkannya. Sementara mereka yang paling fasih berbicara tentang Pancasila kadang justru paling lihai mengakali semangatnya.

Kita hidup di zaman ketika kata “rakyat” sangat sering diucapkan, tetapi terlalu jarang didengarkan. Rakyat disebut dalam pidato, dimunculkan dalam iklan politik, bahkan dijadikan latar belakang foto kampanye. Namun setelah pemilu selesai, rakyat menjelma statistik yang dipanggil lima tahun sekali.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...