Pancasila: Negara Memperingati, Rakyat Memperingatkan

Mereka berbicara tentang persatuan sambil memelihara polarisasi politik. Berpidato tentang gotong royong sambil membangun oligarki. Mengutip keadilan sosial sambil membiarkan kesenjangan menjadi tontonan sehari-hari.
Memuji demokrasi sambil alergi terhadap kritik. Di republik ini, kemunafikan sering tampil lebih patriotik daripada kejujuran. Dan ironinya, semua itu kerap dibungkus dengan bahasa nasionalisme.
Kita pernah melihat salah satu contoh paling telanjang dari ironi itu dalam polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) di KPK.
Dalam film dokumenter The EndGame, Dandhy Laksono memperlihatkan bagaimana sejumlah pegawai KPK yang selama ini dikenal berintegritas justru tersingkir melalui mekanisme yang konon dilakukan demi menjaga wawasan kebangsaan.
Orang-orang yang bertahun-tahun mengejar koruptor malah dipertanyakan nasionalismenya. Sementara koruptor sendiri, dalam banyak kasus, masih bisa tersenyum tenang di ruang sidang, melambaikan tangan ke kamera, bahkan sesekali tetap disambut bak tokoh terhormat.
TWK akhirnya bukan sekadar tes. Ia berubah menjadi simbol zaman: sebuah panggung absurd tempat loyalitas lebih penting daripada integritas, dan kesetiaan administratif lebih menentukan daripada keberanian moral. Betapa ironisnya republik ini.
Pertanyaan-pertanyaan dalam TWK bahkan terdengar seperti dongeng yang lupa bahwa dirinya sedang menjadi kenyataan. Hal-hal privat, keyakinan pribadi, hingga pertanyaan yang sulit dipahami relevansinya dengan pemberantasan korupsi mendadak dianggap sebagai ukuran cinta tanah air.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar