Pancasila: Negara Memperingati, Rakyat Memperingatkan

Di mana letak “keadilan sosial” ketika harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada pendapatan? Di mana “kemanusiaan yang adil dan beradab” ketika kritik publik dibalas dengan kriminalisasi?
Di mana “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” ketika politisi lebih sibuk mendengar suara buzzer daripada suara warga.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus-terusan menghinggap di dalam kepala dan tidak pernah hilang. Ia hanya sering ditutup sementara oleh seremoni. Dan republik ini memang sangat hobi dengan seremoni.
Di negeri ini, kadang-kadang upacara tampak lebih penting daripada isi. Mikrofon lebih dijaga daripada moralitas. Spanduk lebih dirawat daripada nilai. Kita seperti bangsa yang sangat ahli merawat bingkai, tetapi mulai lupa pada gambar di dalamnya.
Pancasila pun perlahan berubah menjadi sesuatu yang paradoksal: sangat dihormati secara simbolik, tetapi sering diabaikan secara substantif. Mungkin karena itu, setiap Hari Lahir Pancasila terasa semakin ironis.
Negara tampak sibuk mengenang kelahirannya, sementara rakyat terus-terusan memperingatkan bahwa ia belum benar-benar meninggal dunia.
Kita tahu, ancaman terbesar bagi Pancasila bukanlah orang yang tidak hafal sila-silanya. Ancaman terbesar justru datang dari mereka yang terlalu fasih mengucapkannya sambil melakukan kebalikan dari nilainya.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar