Analisis Kritis Akuntansi terhadap Beban APBN
Makan Bergizi Gratis dan Paradoks Kesejahteraan Fiskal

Hasil atau Sekadar Keluaran? Kenyang Belum Tentu Sejahtera
Kesalahan umum program pemerintah terlalu bangga pada output. Berapa juta porsi yang dipasarkan? Berapa dapur yang dibangun? Berapa jangkauan provinsinya? Semua itu penting, tapi belum cukup.
Pertanyaan yang lebih tajam adalah hasil. Apakah status gizi membaik? Apakah angka stunting turun? Apakah siswa lebih fokus belajar? Apakah kehadiran sekolah naik? Apakah keluarga miskin terbantu? Kenyang adalah kondisi sesaat. Sejahtera adalah perubahan yang harus dibuktikan.
Jika MBG hanya menghasilkan angka distribusi tanpa perubahan sosial, program ini hanya sibuk memberi makan, bukan membangun manusia.
Akuntabilitas Fiskal: Siapa yang Berani Bertanggung Jawab Jika Gagal?
Pertanyaan terakhir yang paling tidak nyaman: siapa yang bertanggung jawab jika MBG gagal? Pemerintah pusat? Badan Pelaksana? Pemerintah daerah? Sekolah? Penjual? Atau semua saling melempar? Akuntabilitas fiskal tidak dapat berhenti pada serapan anggaran.
Serapan bukan prestasi jika hasilnya lemah. Apalagi anggaran yang habis terserap bisa menjadi tanda bahaya jika manfaatnya kabur. MBG harus dinilai dengan ukuran keras: tepat sasaran, efisien, transparan, berdampak, dan dapat diaudit.
MBG tidak harus ditolak hanya karena mahal. Namun, MBG juga tidak dapat diterima mentah-mentah hanya karena terdengar mulia. Negara boleh memberi makan rakyat.
Namun, rakyat berhak membaca tagihannya. Dalam sektor akuntansi publik, setiap rupiah harus memiliki jejak, alasan, manfaat, dan penanggung jawab. Tanpa itu, MBG hanya akan menjadi paradoks fiskal, rakyat diberi makan hari ini, APBN menanggung sakitnya esok hari. (*)


Komentar