Analisis Kritis Akuntansi terhadap Beban APBN
Makan Bergizi Gratis dan Paradoks Kesejahteraan Fiskal

Transparansi Anggaran: Jangan Sampai Rakyat Hanya Melihat Nasi, Bukan Nota Belanjanya
Transparansi MBG harus konkret. Masyarakat perlu mengetahui harga per porsi, standar gizi, pola pengadaan, pelaksana lapangan, kualitas makanan, wilayah penerima, dan hasil pemeriksaan.
Dengan realisasi Rp51,5 triliun, program ini terlalu besar untuk hanya dijelaskan lewat slogan. Rakyat tidak cukup diberi tahu bahwa jutaan orang sudah menerima manfaat.
Rakyat juga perlu tahu bagaimana uang itu bergerak. Siapa penyedianya? Berapa biaya logistiknya? Bagaimana mencegah makanan tidak layak? Bagaimana memastikan penerima benar-benar tepat sasaran? Kalau uang publik dipakai, publik berhak membaca rinciannya.
Risiko Kebocoran: Program Besar Selalu Mengundang Pemburu Rente
Program besar selalu mengundang pemburu rente. MBG punya rantai panjang: pembelian bahan pangan, pengolahan makanan, dapur, tenaga kerja, transportasi, distribusi, pengawasan mutu, sampai pelaporan.
Di setiap titik ada peluang efisiensi, tetapi juga ada peluang permainan. Risiko mark-up, titipan vendor, laporan fiktif, kualitas makanan rendah, dan distribusi masalah tidak boleh dianggap kualitas kosong.
Dalam pengelolaan uang publik, curiga secara sehat jauh lebih aman daripada percaya secara buta. Apalagi ketika nilai program mencapai puluhan triliun rupiah.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar