(Harita Group dan Perayaan Earth Hour di Benteng Orange)
Senjakala Bumi

Sedangkan Michel Foucault (1976), kuasa bekerja melalui produksi pengetahuan dan narasi. Dalam konteks greenwashing perusahaan menciptakan narasi bahwa mereka berkelanjutan, hijau, peduli bumi, netral karbon, dan merawat alam digunakan untuk membentuk persepsi positif.
Dalam ruang publik, citra lebih muda dikendalikan dari pada realitas. Masyarakat disuguhi foto penanaman pohon, seminar lingkungan, dan perayaan earth hour, tetapi jarang diajak bicara untuk melihat secara inklusif tentang data kerusakan lahan, emisi industri, pengelolaan tailing, atau dampak sosial terhadap masyarakat sekitar tambang.
Perayaan earth hour di Benteng Orange seharusnya menjadi ruang refleksi kritis, bukan panggung promosi korporasi.
Euforia earth hour lahir dari kesadaran bahwa gaya hidup konsumtif dan model ekonomi eksploitatif telah membawa bumi ke ambang krisis.
Jika perusahaan yang terlibat dalam ekstraksi sumber daya alam menjadikan momen ini sebagai alat pencitraan, maka subtansi gerakan beresiko dikosongkan. Earth Hour berubah dari gerakan moral menjadi festifal simbolik. Lampu dipadamkan, tetapi mesin eksploitasi tetap menyala.
Harita Group dan industri sejenis kerap menggunakan narasi permbangunan, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, membangun infrastruktur, dan mendukung transisi energi global melalui komoditas seperti nikel.
Narasi ini tidak sepenuhnya keliru. Industri memang dapat menciptakan 30% manfaat ekonomi. Namun, 70% kerusakan ekologis.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar