(Harita Group dan Perayaan Earth Hour di Benteng Orange)
Senjakala Bumi

Dalam konteks ini, dampaknya meliputi kerusakan hutan, sedimentasi sungai dan pesisir, hilangnya habitat, pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara, serta konflik ruang hidup masyarakat.
Dengan demikian, ketika perusahaan pertambangan berbicara tentang “Merawat Bumi”, publik berhak membaca lebih kritis dibalik makna istilah tersebut.
Pertanyaannya apakah merawat bumi berarti menanam beberapa ribu bibit pohon sambil terus mengeruk gunung? Atau apakah memadamkan lampu selama satu jam dapat menebus jejak ekologis dari aktivitas industri yang berjalan bertahun-tahun?
Di sinilah konsep greenwashing menjadi relevan. Greenwashing adalah praktik ketika perusahaan membangun citra ramah lingkungan melalui kampanye simbolik, sementara aktivitas utamanya tetap berkontribusi pada kerusakan ekologis.
Dalam konteks ini, Jean Baudrillard (1981), menyatakan simbol dapat menggantikan realitas. Dengan kata lain, tanda, citra, dan simbol tidak lagi merepresentasikan kenyataan, tetapi justru menggantikan kenyataan itu sendiri.
Artinya, masyarakat melihat citra hijau sebagai kenyataan, padahal di balik itu terdapat kerusakan lingkungan yang disembunyikan. Greenswashing bekerja melalui produksi citra.
Lebih jauh, Pierre Bourdieu (1991), mengatakan simbol dapat menjadi alat kekuasaan melalui symbolic power. Ia menambahkan perusahaan besar memakai bahasa ramah lingkungan untuk memperoleh legitimasih sosial.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar