Meniti Cahaya: Tidore Dibalik Bayang-bayang Kebijakan

Fauzul Fahrisan

Oleh: Fauzul Fahrisan
(Mahasiswa Fakultas Teknik Unkhair, Kader dJAMAN Malut)

“Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan” pepatah ini tampaknya benar-benar diterapkan oleh pemerintah Tidore secara harfiah.

Tidore memiliki topografi yang cukup menantang dengan akses jalan yang menghubungkan antara daerah pesisir dan daerah pegunungan.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 15 April 2026

Saat malam hari wajah kota ini hilang bak ditelan bumi, dikarenakan minimnya penerangan jalan di beberapa titik yang membatasi warga dalam beraktivitas.

Dalam diskursus pembangunan kota, Penerangan Jalan Umum (PJU) tak hanya menjadi penambah estetika, melaikan memegang peran penting sebagai urat nadi keamanan dan kenyamanan.

Bagi sebuah kota yang memiliki tujuan untuk menjadi kota wisata, cahaya memegang peran penting. Bayangkan saja, saat kita ingin menikmati suasana malam di Kota Tidore, namun disambut dengan jalan yang gelap gulita.

Kegelapan tak hanya mematikan keindahan kota, tetapi juga menimbulkan persepsi buruk tentang kesiapan pemerintah dalam mengelola insfraktruktur publik.

Kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa banyak tiang PJU di tidore hanya menjadi monumen bisu. Tidore yang digadang akan menjadi kota wisata, tak bisa hanya terang saat festival tutup tahun saja.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...