Lemahnya Kontrol Pangan di Maluku Utara
Pasar Tradisional, Risiko Modern

Oleh: Riski Ikra
(Mahasiswa Perikanan Ummu)
Pagi itu, sinar mentari menyilimuti kota Ternate dengan hangat seolah mengiringi langkahku menuju pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Dalam perjalanan menuju kota yang lekat dengan sebutan kota rempah itu, kota yang sebelumnya aku kenal melalui layar ponsel sekarang menjadi kota yang dekat yang penuh dengan makna. Sesaat aku tiba di pasar tradisional kota ternate, denyut kehidupan segera menyambutku.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 9 Februari 2026
Sejak fajar merekah di ufuk timur, tawar-menawar berpadu dengan langkah para pedagang di pasar tradisional kota ternate sambil menghisap udara yang penuh aroma ikan segar yang terpamu di udara. Pasar bukanlah semata tempat jual beli; pasar adalah simpul yang terhubung sosial dan budaya.
Di tempat itu, masyarakat pesisir menggantungkan kehidupan, bukan hanya sebagai penjual, tetapi juga sebagai pembeli yang setiap hari menaruh kepercayaan, bahkan keselamatan kesehatan mereka, pada lapak-lapak sederhana di pinggir jalan yang setia melayani.
Namun justru karena terlalu dekat menjadikan pasar luput dari perhatian kritis. Ia wajar. Ikan segar itu aman. Sayur hijau bisa diolah jadi sehat. Mereka lupa bahwa dunia pangan bukan sesederhana seperti itu.
Mungkin buah busuk gampang deteksi, tetapi ancaman terhadap kesehatan sering kali tidak berbau, tak berwujud, bahkan tidak terdeteksi, sehinga ketika mengonsumsi tidak terjadi apa-apa akan tetapi dari situlah letak persoalan.
Efeknya bukan dalam waktu dekat, tetapi ia semacam bibit penyakit jangka panjang yang berisiko pada kesehatan tubuh dan berpotensi kangker tubuh, tetapi sering kali kita temui dalam presedan budaya.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar