Lemahnya Kontrol Pangan di Maluku Utara

Pasar Tradisional, Risiko Modern

Riski Ikra

Karena itu, dampak jangka panjang dari hal ini tidak boleh diabaikan. Gangguan pencernaan yang berulang, gangguan metabolis, adanya kemungkinan gangguan hormon, dan beban kesehatan masyarakat akan terus meningkat.

Biaya pengobatan meningkat. Produktivitas menurun. Keluarga miskin menanggung dampak paling berat. Akhirnya, masyarakat membayar mahal untuk kelalaian yang seharusnya bisa dicegah sejak awal oleh negara.

Oleh karena itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) kota ternate, maupun secara umumnya Maluku Utara, permasalahan tersebut jauh lebih mendesak, terutama karena sifat wilayahnya yang kepulauan.

Model panjang penyebaran pangan, tingginya ketergantungan pada sumber pangan laut, dan kemampuan pengawasan yang terbatas menghasilkan ancaman yang menumpuk. Sayangnya, isu keamanan pangan sering kalah prioritas dibanding proyek-proyek fisik yang lebih mudah dipamerkan.

Padahal, solusi itu tidak harus revolusioner. Yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma. Pengawasan pangan harus berpindah dari razia musiman ke sistem perlindungan berkelanjutan. Edukasi pedagang dan konsumen harus menjadi bagian dari kebijakan.

Pembatasan plastik untuk makanan panas harus berani diterapkan. Investasi pada laboratorium dan sumber daya manusia daerah harus dianggap sebagai investasi kesehatan, bukan beban anggaran.

Pasar tradisional bukanlah musuh pembangunan. Malah, ia adalah dasar ekonomi rakyat. Membiarkannya berarti membiarkan kesehatan bersama masyarakat itu tetap baik.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...