Ketika Kampus Tak Selalu Ramah

Mursid Puko

Kampus sering digambarkan sebagai rumah intelektual, tempat ilmu pengetahuan tumbuh, dan tempat pemikiran kritis diberi ruang. Tapi gambaran ini akan terasa absurd ketika seorang mahasiswa takut bersuara atas problematika yang dia hadapi, apabila ada tekanan dari pihak kampus.

Kampus bukan tempat netral, ia adalah sistem. Padahal Universitas adalah ruang bagi kaum intlektual untuk tumbuh, tapi Universitas juga bisa menjadi mesin yang menekan, jika budaya feodal dan ketakutan tetap dilestarikan.

Apabila di kalangan mahasiswa budaya diam dilestarikan itu bukan karna tanpa sebab, melainkan dari mereka sendiri sebagai mahasiswa takut melakukan demonstrasi apabila ada pengancaman proses akademik.

Bagaimana mungkin keberanian dianggap sebagai ancaman dan bagaimana sistem pengaduan internal kampus seringkali hanya formalitas tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah.

Dalam sistem yang timpang ini, penting untuk terus mengingatkan bahwa mahasiswa bukan objek yang harus tunduk, tapi subjek yang punya hak.

Mahasiswa bukan sekadar angka dalam daftar presensi atau untuk memenuhi SKS, mereka merupakan manusia yang berpikir dan berhak mendapatkan sesuatu yang menjadi kebutuhan karna kewajiban mereka sebagai mahasiswa telah ditunaikan.

Jika dunia akademik ingin mencetak generasi pemikir maka mereka harus diajarkan untuk berpikir, jika ingin melahirkan agen perubahan maka kampus harus menjadi tempat di mana keberanian dihargai, bukan di intimidasi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...