Ketika Tanah Menjadi Doa: Dari Petani, Harapan adalah Anugerah

Oleh: Muhammad Wahyudin
(Mahasiswa Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan FKIP Unkhair Ternate)
Ketika fajar membuka hijab di ufuk timur halmahera, seorang petani memanggul cangkul, parang dan saloinya dengan langkah pelan menyusuri pematang sawah dan hamparan pohon kelapa yang masih diselimuti kabut.
Embun menempel di pucuk daun padi dan atap ruma kebun, sementara burung-burung kecil berkicau di antara ranting pohon kelapa. Ia menunduk, mencangkul tanah yang lembab, menanam benih dengan penuh kesabaran.
Baca di: Koran Digital Malut Post Edisi Senin, 10 November 2025
Dalam diamnya tersimpan do’a yang panjang, doa yang lahir dari hati yang sederhana dengam penuh keyakinan. Bagi petani, tanah bukan sekadar tempat berpijak.
Akan tetspi tanah merupakn sumber kehidupan itu sendiri. Dari tanah ia menanam, berharap, dan memetik anugerah yang dititipkan Tuhan dalam setiap butir padi yang menguning dan buah kelapa yang mengering.
Namun di balik kesyahduan itu, ada kenyataan yang getir. Di negeri yang menyebut dirinya agraris ini, petani sering kali justru menjadi yang paling menderita.
Lahan-lahan subur yang dulu menjadi sumber kehidupan kini perlahan menyusut, terdesak oleh pembangunan, industri, dan tambang yang rakus.
Sawah yang hijau, pohon kelapa yang menjulang tinggi sebagai benteng dan tempat berteduh, kini berganti dengan debu-debu tabang dan lubang-lubang tambang yang menganga.
Di Halmahera Timur, tanah yang dulu memberi makan kini menjadi lahan eksploitasi nikel. Air sungai yang dulu jernih kini berwarna keruh karena limbah industri.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar