Ketika Tanah Menjadi Doa: Dari Petani, Harapan adalah Anugerah

Para petani kehilangan sawah, kebun kelapa. kehilangan sumber air, bahkan kehilangan harapan atau identitas dengan adanya pergeseran budaya yang cendrung memandang alam hanya sebatas materi. Ironis, karena justru dari tangan-tangan merekalah (petani) kehidupan bangsa ini tumbuh.
Bagi petani tanah tidak pernah dianggap sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan seenaknya. Tanah merupakan warisan yang perlu dijaga, karena bagi petani tanah juga bagian dari tubuh dan roh mereka.
Dalam pandangan tradisional masyarakat agraris, tanah merupakan ibu yang melahirkan dan memelihara kehidupan hari ini dan masa depan.
Ketika tanah digusur atau dirusak, sejatinya yang dicabut bukan hanya akar tanaman, tetapi juga akar budaya dan spiritualitas. Tetapi dalam pandangan ekonomi modern, tanah hanya dilihat sebagai aset, sebagai angka dalam laporan investasi.
Para pemodal datang dengan izin dan alat berat, sementara petani hanya memiliki doa dan keteguhan hati. Mereka melawan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesabaran dan keyakinan bahwa suatu hari bumi akan berpihak pada yang menjaga, bukan pada yang merusak.
Kepastian hidup bagi petani sering kali rapuh. Mereka menanam di tengah ketidakpastian cuaca, ketidakpastian harga, dan ketidakpastian kebijakan. Harga pupuk melonjak, hasil panen tidak menentu, dan pasar dikuasai oleh tengkulak (pemodal).
Negara yang seharusnya hadir melindungi sering kali hanya datang membawa janji dan harapan palsu (pembohong). Subsidi pertanian tidak merata, kebijakan sering tidak berpihak pada mereka yang kecil.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar