Coka Iba dan Fanten; Warisan yang Harus Dipertahankan

Oleh: Aton Bagaskara Jafar
(Peneliti Coka Iba tahun 2018-2019)
Di berbagai daerah di Maluku Utara, khususnya Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya ditandai dengan lantunan shalawat dan zikir, tetapi juga diwarnai dengan ekspresi budaya yang kaya makna.
Dua di antaranya adalah Coka Iba dan Fanten. Keduanya lahir dari rahim sejarah panjang masyarakat pesisir dan pedalaman, dan menjadi warisan turun-temurun yang bukan hanya ritual, melainkan juga perekat sosial.
Baca Juga: Pancasila Warisan Bersama
Namun, dalam dinamika masyarakat modern, tradisi ini menghadapi dilema. Sebagian orang menganggapnya sudah tidak relevan, sebagian lagi bahkan melihatnya sebagai gangguan.
Padahal, jika dipahami lebih dalam, baik Coka Iba maupun Fanten menyimpan nilai luhur yang justru selaras dengan semangat peringatan Maulid Nabi: menguatkan iman, mempererat persaudaraan, dan menebarkan kebahagiaan.
Fanten: Persaudaraan Sejati dalam Bingkai Maulid
Fanten berasal dari kata faften dan fantene. Faften berarti duduk berhadapan dengan seseorang yang dianggap sebagai saudara sejati, sementara fantene berarti memberikan sesuatu kepada saudara sejati itu. Praktik Fanten biasanya dilaksanakan usai salat Isya hingga larut malam, bertepatan dengan Maulid Nabi.
Dalam suasana penuh kekhusyukan, Fanten disertai dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad, zikir, shalawat, serta pesan-pesan moral.
Baca Juga: Koran Digital Malut Post edisi, Senin 8 September 2025
Nilai-nilai yang dikandung Fanten terangkum dalam ungkapan “ngaku re rasai, budi re bahasa, sopan re hormat, mtat re memoi.” Artinya:
pertama, ngaku re rasai, mengakui keberadaan Tuhan sekaligus menjalin persaudaraan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan setara saudara kandung.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar