Coka Iba dan Fanten; Warisan yang Harus Dipertahankan

Aton Bagaskara Jafar, S.Pd

Kedua, sebagai simbol duka atas wafatnya Nabi, diwujudkan dalam aksi “memukul” orang, seakan-akan menegaskan bahwa kehilangan Nabi adalah kehilangan yang menyakitkan.

Dalam konteks lokal, masyarakat memahami Coka Iba sebagai hiburan yang sah, wajar, bahkan ditunggu-tunggu. Sayangnya, situasi kini tidak sama dengan dulu.

Di wilayah seperti Weda, Patani, dan Maba, arus pendatang dari berbagai daerah membawa nilai dan budaya yang berbeda. Apa yang dahulu dipandang biasa, misalnya aksi memukul ringan atau masuk lewat jendela, kini dianggap melanggar privasi dan menimbulkan keresahan.

Inilah tantangan kita: antara melestarikan tradisi yang sarat makna atau menyesuaikan diri dengan nilai masyarakat yang semakin plural.

Tantangan Zaman dan Perubahan Sosial

Tidak dapat dipungkiri, zaman telah berubah. Modernisasi, urbanisasi, serta mobilitas penduduk membuat budaya lokal berhadapan dengan realitas baru.

Tradisi yang dahulu lahir dari masyarakat homogen kini harus bertemu dengan komunitas yang majemuk. Wajar bila sebagian orang merasa tidak nyaman, bahkan menolak.

Namun, apakah karena ketidaknyamanan itu lalu budaya harus dihapuskan? Di sinilah pentingnya sikap bijak. Coka Iba dan Fanten adalah identitas sekaligus warisan. Menghapusnya sama dengan memutus ingatan kolektif masyarakat tentang bagaimana leluhur mereka memaknai Maulid Nabi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...