Coka Iba dan Fanten; Warisan yang Harus Dipertahankan

Aton Bagaskara Jafar, S.Pd

Kedua, budi re bahasa, menjaga tutur kata agar tetap lembut, jujur, dan menenangkan.
Ketiga, sopan re hormat menghormati yang lebih tua, menyayangi yang muda, dan menjaga keakraban sosial. Keempat, mtat re memoi, rasa takut dan malu kepada Allah bila ucapan dan perbuatan menyakiti orang lain.

Lebih dari sekadar ritual, Fanten membangun ikatan emosional yang kuat. Apa yang dimakan dan diminum seseorang dalam Fanten ditanggung oleh pasangannya yang berhadapan.

Sebaliknya, apa yang dikonsumsi pasangan itu adalah tanggung jawab dirinya. Saling menanggung inilah simbol bahwa hidup manusia tak pernah bisa berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan menopang.

Dalam konteks Maulid, Fanten mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi tidak hanya diwujudkan dengan untaian doa, tetapi juga dengan mewujudkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari: setia, jujur, saling mengasihi, dan rela berkorban.

Coka Iba: Ekspresi Rakyat dalam Merayakan dan Meratapi Nabi

Jika Fanten menghadirkan kedalaman spiritual, maka Coka Iba membawa semarak kebudayaan rakyat. Coka Iba berasal dari kata dalam bahasa Tidore yang berarti “topeng setan”.

Namun sejatinya, nama asli tradisi ini adalah Mev, yang artinya menyerupai. Dalam perjalanannya, masyarakat lebih akrab dengan sebutan Coka Iba karena kisah masa lalu Kolano Tjiriliati yang kaget melihat pertunjukan Mev dan spontan menyebutnya demikian.

Mev atau Coka Iba bisa ditampilkan dengan topeng maupun tanpa topeng (misalnya Mev Pecek atau Coka Iba Pecek). Pertunjukan ini hadir dalam dua wajah:

Pertama, sebagai bentuk kegembiraan menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, ditampilkan dengan gerakan lucu, jenaka, bahkan menggoda masyarakat untuk tertawa.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...