Menelusuri Potret Sultan Tidore Saifuddin Syah, di Museum Czartoryskich di Krakow, Polandia
Jejak Sang Sultan dan Gagasan Hubungan Malut-Polandia

Saifuddin yang terkenal tenang dan intelektualis itu melakukan pendekatan dengan rakyatnya berupa dialog langsung sembari mengklarifikasi ketidakbenaran rumor tersebut.
Selanjutnya, dalam pemberian hak monopoli dagang rempah-rempah itu, Tidore meraup pemasukan 2400 ringgit tiap tahun. Pemasukan tersebut benar-benar dimanfaatkan sultan untuk kesejahteraan rakyatnya.
Sosok Saifuddin dikenal begitu lekat dengan rakyatnya. Dia makan dan minum dengan menu yang layaknya rakyat biasa. Dia menunjukkan tipikal pimpinan yang merakyat.
Di banyak kesempatan dia terlihat di pasar, di tepi jalan dan di pantai tengah berbicara dengan rakyatnya. Selama kepemimpinannya hubungan Tidore – Ternate terjalin hangat tanpa perseteruan.
Di masa kepemimpinannya, istana Tidore berhasil dipindahkan dari Kadaton Biji Negara di Toloa menuju Limau Timore Soasia. Pemindahan ibukota ini membuat ia dikenal sebagai Jou Kota atau sultan yang diantar.
Saifuddin mengenalkan pemerintahan baru yang dikenal dengan Kolano Se Ibobato Pehak Raha Se Isuduru (Sultan bersama empat kementerian dan stafnya). Ia melakukan berbagai upaya pembangunan infrastruktur untuk menopang kinerja pemerintahan dan pelayanan masyarakat.
Ide brilian dari pemerintah baru yakni konstitusi dasar Kesultanan Tidore yang berisi lima poin utama, yakni:
1. Kie Se Kolano (Sultan bersama wilayah kekuasaannya).
2. Adat Se Lakudi (Perikemanusiaan yang adil dan beradab).
3. Atur se Aturan (Pelimpahan wewenang)
4. Fara se Filang (Pembagian keuangan antara pusat pemerintahan dan daerah)
5. Syah Se Fakat (Setiap Keputusan atas dasar musyawarah dan mufakat).
Jelang akhir kekuasaannya, Saifuddin menderita penyakit lepra. Tak ada dokter maupun ahli yang dapat menyembuhkan penyakit lepra saat itu. Dia kemudian mengisolasi diri di kamar istana hingga tersiar kabar seantero negeri tepat 2 Oktober 1687, langkah Saifuddin terhenti dan berpulang. (uty/nty).
Penulis: Putri Citra Abidin
(Ternate)


Komentar