Menelusuri Potret Sultan Tidore Saifuddin Syah, di Museum Czartoryskich di Krakow, Polandia

Jejak Sang Sultan dan Gagasan Hubungan Malut-Polandia

Wartawan koran ini berpose di depan lukisan Sultan Saifuddin yang terpanjang di Museum Czartoryskich di Krakow, Polandia, tahun lalu
Wartawan koran ini berpose di depan lukisan Sultan Saifuddin yang terpanjang di Museum Czartoryskich di Krakow, Polandia, tahun lalu

“Pada tahun 1876, Museum Czartoryski baru (yang masih milik pribadi) kembali dibuka di Kraków oleh Pangeran Czartoryski, cucu dari Putri Izabela.

Polandia saat itu masih belum menjadi negara merdeka, tetapi otoritas Austria yang mengendalikan Kraków relatif liberal dan mengizinkan penyelenggaraan museum dan pameran Polandia. Potret Saifuddin dipamerkan di museum ini, meskipun sulit untuk menentukan secara pasti sejak tahun berapa,” sebutnya.

Ini menunjukkan sampai saat ini pun, pihak museum tidak mempunyai informasi valid terkait pelukis asli lukisan Sultan Saifuddin. Namun, lukisan tersebut secara kasat mata yang terlihat adalah kemiripan gaya dengan potret-potret penguasa kolonial dari abad ke 16 dan 17, dengan gaya lukisan yang memperlihatkan teknik khas seniman Eropa yang pernah ke Asia Tenggara.

Di dalam lukisan tersebut, selain wajah Sultan Saifuddin yang terlihat jelas, juga pakaian yang dikenakan berupa jaket, rantai, serta hiasan rambut yang dikenakan di kepala, terdapat pula ejaan nama Sayfoedin.Coningh. Van Tidore.

“Ejaan Belanda sebagaimana potretnya didapat dari pelelangan di Belanda. Menariknya, saat pertama kali dibeli, lukisan itu masih diberi label “Raja Ternate, belakangan itu adalah sebuah kekeliruan yang kemudian dikoreksi menjadi Sultan Tidore,” sebutnya.

Tentang Sultan Siafuddin Syah

Dikutip dari berbagai literature, pada 1663, Tidore menjadi incaran VOC pasca absennya Spanyol di Tidore. Untuk menghindari kerusakan dan kerugian, Sultan Saifuddin melakukan perjanjian dengan VOC pada 1667 yang isinya, bahwa pertama, VOC mengaku hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Ampat dan Papua daratan. Kedua, Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC.

Poin dua kesepakatan tersebut menimbulkan protes dari berbagai pihak bahkan dari internal istana menilai persekutuan Saifuddin terhadap VOC sebagai bentuk kekafiran sehingga beredar rumor, sultan telah menggadaikan Kesultanan Tidore kepada VOC.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...