Menelusuri Potret Sultan Tidore Saifuddin Syah, di Museum Czartoryskich di Krakow, Polandia
Jejak Sang Sultan dan Gagasan Hubungan Malut-Polandia

Lukisan yang menggunakan cat minyak itu dilukis di atas panel kayu, sehingga seiring pergantian masa lukisan mengalami sedikit kerusakan. “Kami terus melakukan perbaikan seperti yang terlihat saat ini jauh lebih baik,” kata Adam.
Senada dengan Adam, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Daerah, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Kris Syamsudin mengatakan berdasarkan penelusuran literature yang dikutip dari John Guy bersama 9 kontributor penulis seluruh dunia, dalam artikel Interwoven Globe: The Worldwide textile trade di abad ke 15-18 yang didistribusikan oleh Yale University Press USA.
Sultan Saifuddin dalam lukisan tersebut mengenakan pakaian berbentuk jaket yang dibuat dari kain yang sangat mewah kemungkinan besar dihiasi border atau aplikasi bunga. Rancangan baju tersebut mencerminkan mode Belanda pertengahan abad 17.
Sultan Saifuddin juga mengenakan rantai emas bertahtahkan permata yang hampir pasti merupakan hadiah dari Vereenigde Oostinndische Compagnie (VOC) serta hiasan rambut emas hasil produksi lokal (Tidore).
“Di literature tersebut juga menyebutkan bahwa pada tahun 1668, Jou Kota meminta kompensasi tahunannya dari VOC atas konsesi dagang dalam bentuk kain senilai 2.000 rijksdaalder (koin Belanda yang pertama kali dikeluarkan Republik Belanda pada akhir abad 16, saat Revolusi Belanda) yang kemudian ia bagikan kepada rakyatnya sehingga memastikan loyalitas yang kuat dari mereka,” kata Kris sebagai host pada diskusi tersebut.
Dalam diskusi itu, Sejarawan Unkhair Ternate, Irfan Ahmad, sempat menyinggung mengenai peluang repatriasi atau pemulangan kembali asset dari luar negeri ke negara asal. Yang dimaksudkan untuk lukisan tersebut.
Namun, pertanyaan itu langsung dijawab Adam yang intinya peluang itu tidak ada. Sebab menurutnya, sangat tidak mungkin lukisan bisa dibawa pulang lagi. lain halnya, jika sifatnya dipinjamkan.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar