(Ketika Hutan Patani Menjadi Kuburan Tanpa Nama)
Torang Sudah Tidak Ada Nilai

Oleh: Yadin Panzer
(Anggota Amnesty GA Human Rights Ternate)
Ada sebuah hutan di Patani yang kini tidak lagi melahirkan kehidupan. Ia melahirkan ketakutan. Hutan itu telah menjadi saksi bisu dari rentetan kematian yang tak pernah tuntas namanya.
Dan di depan hutan itulah, seorang lelaki bertopi putih di Desa Banemo berteriak dengan dada sesak kepada Brimob Polda Maluku Utara: "Kalau mau tembak, tembak semua torang sudah."
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 8 Oktober 2026
Video 26 detik itu bukan sekadar video perdebatan. Itu adalah video tentang puncak dari sebuah luka yang sangat panjang, yang akarnya tidak bermula dari rumah warga yang terbakar di Sibenpopo, melainkan dari darah yang terus menetes di dalam hutan.
Mari kita jujur merunutnya, agar kita tidak sesat dalam menilai.
Hutan Yang Menelan Manusia, Negara Yang Menjawab Dengan OTK
Sudah berapa nyawa yang hilang di hutan Patani? Berapa petani kopra yang pergi pagi dan pulang sebagai mayat? Berapa Ayah yang masuk ke hutan dan ditemukan termutilasi?
Warga Banemo masih mengingat jelas peristiwa terbaru: seorang warga mereka ditemukan tewas dimutilasi di dalam hutan Banemo sendiri.
Tubuh yang tercabik, yang seharusnya menjadi alasan bagi negara untuk hadir dengan seluruh kekuatannya untuk mencari keadilan. Tapi apa yang didapat warga Banemo?
Jawaban yang sama, yang dingin dan hampa, yang sudah bertahun-tahun mereka dengar untuk setiap pembunuhan berantai di hutan Patani: pelakunya adalah Orang Tak Dikenal, OTK.
OTK. Tiga huruf yang telah menjadi nisan bagi semua korban di Patani. Tiga huruf yang membunuh harapan lebih kejam daripada parang yang memutilasi korban. Ketika negara hanya bisa berkata OTK, maka ia sedang berkata kepada rakyatnya: "Kami tidak tahu, dan kami tidak akan tahu."
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar