(Ketika Hutan Patani Menjadi Kuburan Tanpa Nama)
Torang Sudah Tidak Ada Nilai

Pembakaran rumah warga Sibenpopo - yang diduga dilakukan warga Banemo - adalah cara yang salah. Itu adalah kejahatan. Tidak ada yang membenarkannya. Tetapi kejahatan itu lahir dari rahim kejahatan lain yang dibiarkan tanpa kejelasan.
Api yang membakar rumah di Sibenpopo sesungguhnya berasal dari api dendam yang menyala dari hutan Banemo yang tidak pernah dipadamkan.
Tembak Semua Torang: Adalah Vonis untuk Negara yang Gagal
Maka ketika Brimob itu datang untuk menangkap paksa warga Banemo atas dugaan pembakaran itu, apa yang dilihat warga? Mereka tidak melihat penegakan hukum. Mereka melihat ketidakadilan yang telanjang.
Mengapa untuk menangkap pembunuh berantai yang memutilasi manusia di hutan, jawabannya hanya OTK? Tapi untuk menangkap warga Banemo yang diduga membakar rumah, negara hadir dengan helm baja dan senapan laras panjang?
Di sinilah letak persoalan holistiknya. Ancaman bagi warga Banemo bukan hanya Brimob di depan mereka. Ancaman yang jauh lebih besar adalah rasa tidak aman yang kronis karena hidup berdampingan dengan pembunuh berantai yang tidak pernah ditangkap.
Risiko dari ancaman itu adalah mereka bisa menjadi korban mutilasi selanjutnya. Dan dampaknya adalah trauma kolektif, kecurigaan antar desa, dan akhirnya konflik horizontal seperti pembakaran rumah ini.
Ketika lelaki bertopi putih itu berkata, "Artinya ini yang diambil itu keluarga besar kami juga," ia sedang menjelaskan antropologi Patani kepada negara. Di sini, satu orang bukan satu orang.
Satu orang adalah representasi dari satu marga, satu kebun, satu hutan. Ketika kau mengambil satu orang dengan cara yang dianggap tidak adil, kau sedang mengambil kehormatan satu keluarga besar.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar