(Ketika Hutan Patani Menjadi Kuburan Tanpa Nama)
Torang Sudah Tidak Ada Nilai

Dan ketika kehormatan itu diambil, sementara kehormatan korban mutilasi di hutan tidak pernah kau kembalikan, maka yang tersisa hanyalah keputusasaan.
"Kalau mau tembak, tembak semua torang sudah. Kalau mau tembak-tembak torang semua sudah."
Dengarkanlah, ini bukan tantangan. Ini adalah kalimat bunuh diri sosial.
Ini adalah cara orang Banemo berkata: "Daripada kami hidup setiap hari dalam ketakutan dibunuh OTK di hutan tanpa kejelasan, dan setiap hari dalam ketakutan ditangkap Brimob karena kecurigaan, lebih baik kami mati semua saja hari ini di sini. Sekalian."
Ini adalah vonis paling keras untuk negara. Bahwa rakyatnya sudah tidak lagi percaya bahwa hidup di bawah perlindungan negara lebih aman daripada mati bersama-sama.
***
Olehnya itu, sebagai peringatan pertama, untuk Polda Maluku Utara. Hentikan narasi OTK untuk pembunuhan berantai di hutan Patani. OTK adalah pengakuan kegagalan.
Bentuklah tim investigasi khusus gabungan yang transparan untuk kasus mutilasi di hutan Banemo dan semua kasus pembunuhan di hutan Patani. Umumkan progresnya kepada warga Banemo dan Sibenpopo.
Karena tanpa kejelasan atas nyawa yang hilang di hutan, konflik Banemo-Sibenpopo tidak akan pernah selesai. Kalian hanya sedang memadamkan asap, sementara apinya masih menyala di dalam hutan.
Kedua, untuk proses penangkapan warga Banemo terkait pembakaran rumah di Sibenpopo. Tegakkan hukum, tapi dengan cara yang humanis. Ikuti KUHAP. Jangan dengan pengepungan yang membuat satu desa trauma.
Karena penangkapan paksa yang militeristik hanya akan mengukuhkan keyakinan mereka bahwa "torang memang tidak ada nilai di negara ini."
Jika hari ini kita membiarkan kalimat "tembak semua torang" berlalu tanpa makna, maka besok, mungkin tidak ada lagi yang tersisa untuk kita tembak, karena hutan itu telah menelan kita semua, satu per satu, dalam diam.

Komentar