Dari Kematian Menuju Kelahiran

Oleh: Hamdy M. Zen
(Dosen PBA IAIN Ternate)
Ada saatnya sebuah daun harus gugur. Bukan karena pohon membencinya, bukan pula karena ia tidak lagi berguna. Ia gugur karena waktunya telah tiba untuk memberi ruang kepada tunas baru. Daun yang dahulu hijau perlahan memudar, menguning, kemudian kecokelatan.
Ia menjadi rapuh hingga akhirnya jatuh ke tanah. Jika hanya melihat daun yang gugur, kita mungkin menyebutnya sebagai kematian. Tetapi jika melihat pohon secara utuh, kita akan menemukan makna lain: gugurnya daun justru membuka ruang bagi kehidupan baru.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 2 September 2026
Barangkali, demikianlah cara yang tepat untuk memaknai 60 tahun perjalanan IAIN Ternate. Pada 5 September 2026, keluarga besar IAIN Ternate akan memperingati Dies Natalis ke-60 yang dirangkaikan dengan wisuda.
Enam puluh tahun tentu merupakan perjalanan panjang yang menyimpan sejarah, perjuangan, pengabdian, keberhasilan, kekurangan, dan dinamika berbagai generasi. Karena itu, momentum ini layak disyukuri.
Namun, Dies Natalis tidak semestinya hanya dipahami sebagai perayaan bertambahnya usia. Ia harus menjadi kesempatan untuk bertanya lebih dalam: apa yang harus dilahirkan kembali setelah enam puluh tahun perjalanan
Dalam pengertian demikian, Dies Natalis bukan sekadar ulang tahun, melainkan momentum kelahiran kembali. Dan setiap kelahiran kembali menuntut keberanian untuk melepaskan, bahkan “mematikan”, sesuatu yang lama.
Dalam kehidupan, sesuatu yang baru sering lahir setelah sesuatu yang lama berakhir. Benih mengalami perubahan untuk menjadi tanaman, kepompong meninggalkan bentuk lamanya agar kupu-kupu dapat lahir, dan daun tua gugur agar tunas baru memperoleh ruang.
Alam mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang kelahiran, tetapi juga keberanian melepaskan apa yang sudah waktunya ditinggalkan.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar