Dari Kematian Menuju Kelahiran

Karena itu, UIN Sultan Babullah Ternate harus menjadi perguruan tinggi yang kuat secara akademik, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam dan sejarah kebudayaan Ternate serta Maluku Utara.
Rangkaian Dies Natalis dengan wisuda pada 5 September juga memiliki makna simbolik yang kuat. Ketika institusi merayakan enam puluh tahun perjalanan, para mahasiswa meninggalkan kampus untuk memasuki kehidupan baru.
Wisuda adalah bentuk kelahiran kembali: dari mahasiswa menjadi sarjana, dari pembelajar di ruang kelas menjadi manusia yang memiliki tanggung jawab lebih besar di tengah masyarakat.
Ijazah bukan akhir dari pendidikan; ijazah adalah awal dari pertanggungjawaban ilmu. Para wisudawan tidak hanya membawa gelar, tetapi juga membawa nama almamater, harapan keluarga, dan amanah masyarakat.
Karena itu, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari seberapa besar ilmu yang mereka miliki mampu memberikan manfaat.
Ternate sendiri memiliki sejarah besar sebagai ruang perjumpaan Islam, perdagangan, kebudayaan, dan berbagai peradaban. Karena itu, perguruan tinggi Islam di Ternate tidak boleh berpikir kecil.
Kita harus berani menjadikan persoalan lokal sebagai sumber pengetahuan yang dapat diperbincangkan di tingkat nasional dan internasional. Kita harus berakar kuat di Ternate, tetapi berpandangan jauh melampaui batas geografis Ternate.
Enam puluh tahun telah menjadi akar. Di dalamnya terdapat pengabdian para pendahulu, perjuangan dosen dan tenaga kependidikan, kerja keras mahasiswa, kontribusi alumni, dan harapan masyarakat.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar