Dari Kematian Menuju Kelahiran

Hamdy M. Zen

Pelajaran ini memiliki kedekatan dengan perspektif tasawuf. Dalam perjalanan spiritual, manusia diajak membersihkan diri dari sifat-sifat yang menghalangi kedekatan kepada Allah.

Ego, kesombongan, kebencian, keserakahan, dan keterikatan berlebihan terhadap kepentingan diri harus dikendalikan agar lahir pribadi yang lebih baik. “Kematian” dalam konteks ini bukan kematian jasmani, melainkan kematian terhadap sifat buruk yang menghambat pertumbuhan diri.

Logika tersebut kiranya dapat kita gunakan untuk membaca perjalanan IAIN Ternate. Yang harus “mati” tentu bukan institusinya, bukan sejarahnya, dan bukan jasa para pendahulu.

Yang harus dimatikan adalah berbagai kebiasaan dan cara berpikir yang menghambat kemajuan: ego sektoral, budaya kerja yang lamban, sikap kekanak-kanakan dalam menyikapi perbedaan, kebiasaan bekerja sendiri-sendiri, resistensi terhadap perubahan, serta mentalitas merasa cukup dengan capaian yang ada.

Institusi yang ingin lahir kembali harus berani menguburkan kebiasaan lama yang menghambat pertumbuhan. Enam puluh tahun juga semestinya menjadi usia kedewasaan. Dalam kehidupan manusia, usia tersebut identik dengan pengalaman, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Demikian pula institusi. Enam puluh tahun seharusnya membuat IAIN Ternate semakin matang dalam berpikir, semakin kuat budaya akademiknya, semakin profesional tata kelolanya, dan semakin dewasa dalam menghadapi perbedaan.

Karena itu, Dies Natalis ke-60 seharusnya menjadi cermin. Sudahkah penelitian dan publikasi menjadi budaya akademik? Sudahkah kerja sama antarfakultas, antarprogram studi, dan antarunit berjalan produktif?

Sudahkah perbedaan gagasan kita kelola sebagai kekayaan intelektual, bukan sebagai sumber perpecahan? Dan sudahkah kita berani meninggalkan kebiasaan yang tidak lagi relevan? Pertanyaan itu mungkin tidak selalu nyaman, tetapi perubahan sering dimulai dari keberanian bertanya kepada diri sendiri.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...