Jangan Panggil Mereka Londo Ireng

Oleh: Rifaldi Eka Shaputra Tantu
(Penggiat Literasi)
“Kita tahu ada anak-anak Indonesia yang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng.Yang ikut Belanda perang lawan kita, londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada.
Hanya sekarang dia pakai baju lain, Wartawan, Jurnalis, Pengamat, LSM. Harus kita tanya yang gaji luh siapa. Yang bayar listrikmu siapa. Yang bayar handphonemu siapa.” Begitulah pidato reaksioner yang disampaikan Prabowo pada Harlah ke-28 PKB pada 23 Juli 2026.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 13 Agustus 2026
Gaya komunikatif Prabowo dalam setiap pidato-pidatonya selalu memilki ciri khas yang tendensius berupa sarkastik, mempunyai pelabelan, maupun peyorasi. Terlepas dari setiap konteks maupun event apapun itu.
Komunikasinya selalu menyelipkan sikap reaksioner yang selalu ditanggapi dengan spontan, tanpa mengikuti teks pidato yang telah disiapkan untuknya.
Gaya-gaya Prabowo yang telah saya sebutkan diatas memiliki penafsiran yang sangat eksplisit jika dikaitkan dengan model Analisis Wacana Kritis.
Dalam Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough menganggap bahwa bahasa adalah bentuk dari praktik sosial dan kekuasaan. Pendekataan ini memilik tiga kriteria pokok dalam membedah sebuah teks: deskripsi teks, praktik wacana, dan praktik sosial (eksplanasi).
Pada tahap deskripsi teks, analisis berfokus pada kosakata, metafora, dan struktur kalimat yang menjadi bahan dari Prabowo. Kita bisa mencermati kosa kata dan metafora yang dibangun adalah metafora historis.
Yang dimana penggunaan istilah londo ireng adalah, istilah lama pada zaman pra kemerdekaan untuk melabeli orang Indonesia yang berkomplot dengan pemerintah kolonial Belanda.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar