Jangan Panggil Mereka Londo Ireng

Prabowo sebagai kepala negara memperlihatkan wacana resistensi kekuasaan eksekutif terhadap fungsi pengawasan (checks and balances) yang dilakukan Pers, Akademisi, dan LSM.
Kemudian dampak dari pelabelan londo ireng kepada objek yang dikritik berpotensi memunculkan efek gentar (chilling Efect), dimana Jurnalis, Akademisi, dan LSM akan melakukan swasensor karena takut dicap sebagai penghianat atau antek asing dikalangan masyarakat.
Istilah londo ireng bukan sekedar hanya pemaknaan kata sejarah yang diucapkan Prabowo dengan spontan. Wacana yang dibangun oleh Prabowo itu merupakan strategi bahasa kekuasaan.
Untuk mengalihkan substansi kritik objektif yang telah beredar di masyarakat terhadap elektabilitas Prabowo yang sudah menurun di bulan Juli, menjadi isu moralitas ataupun nasionalisme.
Dengan membingkai Jurnalis, Pengamat, dan LSM sebagai “musuh yang berkedok”. Negara sedang mencoba membangun hegemoni kebenaran dari kondisi sosial-ekonomi yang kalut pada masyarakat dan juga ruang publik.(*)




Komentar