Jangan Panggil Mereka Londo Ireng

Rifaldi Eka Shaputra Tantu

Secara historis frasa tersebut merupakan sebuah ejekan dan juga berfungsi untuk mengkonstruksi bahwa Wartawan, Pengamat, dan LSM adalah Penghianat bangsa.

Sedangkan struktur kalimat pelengkap yang dipakai Prabowo seperti, “yang gaji luh siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” merupakan suatu impresi konfrontasi bahwa Prabowo merendahkan kemandirian finansial pada objek yang dikutip.

Selanjutnya praktik wacana yang akan dikupas. Dimensi praktik wacana ini mengamati bagaimana teks diproduksi, disampaikan, dan coba untuk dikonsumsi oleh khalayak. Pidato dari Prabowo disampaikan secara langsung diatas podium forum politik internal partai PKB.

Pada konteks dalam acara harlah partai PKB, Prabowo tanpa dengan teks yang sudah diatas mejanya menggunakan kata londo ireng untuk mendikotomi bahwa pengkritiknya adalah musuh.

Gaya penyampaian pesan Prabowo yang selalu emosional dan meluap-luap ini merupakan ciri khas dari komunikasi politik Prabowo untuk membakar semangat khalayaknya agar bisa menerima pesannya secara antusias.

Setelah teks disampaikan, komunikan kemudian menjadi terpolariasi. Dari sisi pemerintah menganggap bahwa pidato tersebut sebagai ketegasan nasionalisme melawan pihak asing. Sedangkan objek yang dikritik mengonsumsinya sebagai bentuk intimidasi verbal dan ancaman terhadap kebebasan berpendapat.

Dan yang terakhir pada tahap praktik sosial (eksplanasi). Tahap ini menganalisis hubungan wacana dengan struktur kekuasaan dan situasi realitas sosial-politik Indonesia tahun 2026. Jika ditilik dari segi politik dalam relasi kekuasaan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...