MBG antara Ambisi Fiskal dan Kualitas Gizi Anak Bangsa

Muhridin Abdulrahman

Oleh: Muhridin Abdulrahman
(Mahasiswa Ilmu Administrasi negara UMMU)

Program makanan bergizi gratis (MBG) merupakan janji politik prabowo gibran dalam kampaye mereka, denggan angaran di tahun 2026 mencapai 450 triliun, pemerintah menargetkan 82 juta anak mampu mendapatkan makan siang tiap hari.

Ambisi ini patut di apresiasi namun muncul masalah di lapangan yang terdengar justrun kabar keracunan massal seperti di daerah sukoharjo, suka bumi, hingga papua barat.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 6 Juli 2026

Ambisi besar ini bertemu denggan realitas logistik yang rumit maka pertayaan tajam yang muncul adalah kita sedang memberikan gizi, atau sekedar memberi makan.

Di tengah kampaye prabowo gibran yang terus berkoar-koar tentang makanan bergizi gratis, rejim percaya terhadap apa yang di buat, namun 1 hal yang harus di lihat adalah beban fiskal.

MBG tidak main-main 450 Triliun setara 13% APBN 2026. Angkanya lebih besar dari anggaran kementrian kesehatan dan kementrian pendidikan di gabungkan. internation monetary Fund ( IMF ) dan Bank Dunia sudah mengigatkan soal risiko defisit melebar dan ruang fiskal yang meyempit.

Denggan biaya Lima belas ribu (15.000 rp per anak per hari), banyak laporan menu di lapangan jatuh dibawah standar Angka kecukupan gizi.

Dapur dipaksa irit, akhirnya yang disajikan nasi, ayam suwir tipis, tahu, dan sayur bening. Apakah ini efisien? Jika tujuanya menurunkan stunting, menu seperti itu belum tentu menjawab kebutuhan protein hewani dan mikronutrien anak.

Di sisilain kita juga bisa melihat eksekusi makanan bergizi gratis di lapangan masih penuh lubang, kita harus ingat indonesia bukan finlandia Distribusi makanan matang untuk 82 juta anak tiap hari dari sabang sampai merauke butuh rantai dingin, dapur berstandar Badan Pengawasan Obat dan Makanan ( BPOM), dan ribuan tenagah terlatih.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...