MBG antara Ambisi Fiskal dan Kualitas Gizi Anak Bangsa

Muhridin Abdulrahman

Skema keuntungan berbasis jumlah porsi memungkinkan satu yayasan meraup miliaran rupiah per bulan menjadikan MBG medium distribusi sumber daya negara kepada jejaring loyalitas politik.

Dalam kerangka marxis, konfigurasi ini mencerminkan fungsi klasik negara kapitalis, yakni menjamin kondisi umum akumulasi dan stabilitas politik melalui redistribusi selektif.

Populisme gizi bekerja sebagai mekanisme ideologi yang menormalisasi praktek tersebut, anak-anak diposisikan sebagai subjek moral yang melumpuhkan kritik, sementara logika akumulasi patronase tetap beroperasi di baliknya.

Narasi memberikan makan anak berfungsi sebagai tameng moral yang efektif untuk meyingkirkan keberatan publik. Orang tua, guru, dan relawan yang mempertayakan kualitas makanan, keamanan konsumsi maupun transparansi anggaran kerap distigmatisasi sebagai penghambatan program.

Laporan mengenai keracunan, makanan basi, atau porsi tidak layak konsumsi sering kali diselesaikan secarah informal tanpa mekanisme akuntabilitas yang jelas. Dalam ekonomi politik marxis, populisme gizi berfungsi mengelola kontradiksi sosial agar tidak berkembang menjadi kiris politik terbuka.

Negara tidak menghampus ketimpangan struktural, kemiskinan, ketergantungan pangan, dan marginalisasi petani, melainkan menengkanya melalui distribusi material terbatas sambil mempertahankan relasi produksi yang timpang.

Dalam kerangka State capital nexus, resiko pasar dialihkan kepada negara, sementara keuntungan diprivatisasi oleh korporasi pangan, di tengah dolar yang ini akan memicu beban fiskal, hal ini akan membuat beban pada rayat, di karenakan beban pajak pada negara akan semakin, otomatis ini seperti negara sengaja membunuh rayat nya secarah terang-terangan.

Selain itu kita juga akan mengaitkan MBG dan food estate, keduanya membentuk artikulasi hulu-hilir yang saling menopang food Estate menyediakan basis produksi komoditas massal yang melalui konsentrasi lahan dan ekspansi agribsinis.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...