MBG antara Ambisi Fiskal dan Kualitas Gizi Anak Bangsa

Muhridin Abdulrahman

Untuk kasus keracunan yang berulang menunjukan SOP keamanan pangan belum disiplin. Ada dilema model, dapur sentral rawan dimonopoli vendor besar dan membuka celah korupsi pengadaan, desentralisasi ke UMKM sekolah lebih memberdayakan, tapi resikonya standar gizi tiap dapur beda-beda belum lagi beban baru buat guru.

Banyak guru kini jadi admin makanan di sekolah, tapi pola makan di ruma tetap buruk begitu lulus SD masalah gizi muncul lagi, lalu apa solusinya? Ambisi bole, tapi eksekusi harus waras.

Padahal yang semestinya menjadi program utama pemerintah adalah pendidikan gratis, kenapa harus pendidikan gratis, kita bisa berkaca di negara-negara super power yang melihat bahwa untuk menjamin mutu dan kualitas suata negara itu di lihat dari sumber daya manusianya yang berkualitas.

Bagaimana untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas ? caranya adalah pendidikan harus di gratiskan. Kita harus kembali melihat “ bergizi ’’ dalam MBG masi tanda tanya besar stunting tidak selesai hanya kenyang.

Anak butuh asupan protein hewani, zat besi, dan zinc yang cukup apakah menu harian sekarang menutup defisit itu? Data persisnya belum transparan polemik susu ikan versus susu sapi juga menu njukan basis kebijakan masih goyah secarah sains.

Lebih riskan lagi, MBG berjalan tampa edukasi gizi yang masif ke orang tua. akibatnya ada potensi ketergantungan anak dapat makan di sekolah, tapi pola makan di rumah tetap buruk begitu lulus sd masalah gizi muncul lagi.

Dalam kondisi ekonomi dan politik indonesia yang tidak baik-baik saja pemerintah terus meyampaikan akan keberhasilan MBG, yang di gembor-gemborkan lewat media.

Indonesia sedang berada di samping jurang kehancuran, kita tidak harus diam denggan kondisi seperti ini kita harus saling merangkul dan menciptakan perlawana.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...