Puasa Empati di Kursi Kekuasaan: Saat Topeng Pejabat Terlepas

Abd. Rahman

Oleh: Abd. Rahman
(Tenaga Pengajar Wiratama Maluku Utara)

Bulan Ramadan adalah laboratorium empati paling kolosal yang pernah diciptakan Tuhan. Dari ufuk timur di pesisir Ternate hingga ke ujung barat Nusantara, perut yang keroncongan diajarkan untuk bersolidaritas pada kaum papa.

Lapar dan haus menjadi guru besar yang paling kejam, sekaligus paling efektif, untuk mengajarkan rasa iba. Secara filosofis, puasa seharusnya melembutkan hati.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 26 Februari 2026

Namun, mari kita jujur. Di negeri ini, ada satu golongan yang sepertinya punya sistem imun kebal terhadap pelajaran empati. Merekalah para pemegang kekuasaan.

Ada sebuah ungkapan klasik yang sangat menampar nurani: "Hampir semua orang bisa bertahan menghadapi penderitaan. Tapi jika engkau ingin menguji watak asli seseorang, beri dia kekuasaan."

Ungkapan ini adalah serum kejujuran paling brutal. Begitu palu diketuk dan Surat Keputusan diteken, topeng kesantunan yang dipakai bertahun-tahun perlahan terlepas. Dan yang tersisa di balik topeng itu sering kali membuat kita mengelus dada.

Fenomena "hilangnya rasa" ini rupanya bukan sekadar penyakit moral, melainkan sebuah malfungsi biologis. Dacher Keltner, pakar psikologi dari University of California, Berkeley, dalam bukunya The Power Paradox, merumuskan sebuah tragedi akademik: kekuasaan itu secara harfiah bisa merusak cara kerja otak penggunanya.

Berdasarkan riset psikologi saraf, otak manusia rupanya bisa mengalami gangguan saat pantatnya didudukkan di kursi empuk jabatan. Ada jaringan saraf empati yang bertugas membaca penderitaan orang lain.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...