Surat Untuk Presiden, Dua Tahun Presiden Prabowo, Satu Permintaan Kami: Kawasan Industri Rempah Moloku Kie Raha

Dr. Mukhtar Adam

Dahulu dunia mendatangi kepulauan Moloku karena rempah; kini dunia kembali datang karena mineral. Dulu Moloku dijajah karena cengkeh; apakah nikel akan menjadi model penjajahan kedua? Lalu berapa bagian kekayaan tanah leluhur itu bagi kehidupan 1,3 juta penduduk di 69 pulau berpenghuni?

Apakah kita sedang menunggu sejarah berulang, ketika komoditas berubah menjadi penjajahan? Atau teknologi berkembang, investor berganti, tetapi kemiskinan tetap kita nikmati?

Kawasan Industri Rempah (Kie Raha)

Moloku Kie Raha, identitas historis dan kultural empat kesultanan, maknanya lebih besar daripada nama sebuah kawasan. MKR menyimpan ingatan tentang peradaban maritim, perdagangan, pengetahuan lokal, hubungan antarpulau, dan kehidupan masyarakat yang bertumpu pada sumber daya alam.

Karena itu, membangun Kawasan Industri Kie Raha bukan nostalgia untuk mengembalikan kejayaan masa lalu. Kie Raha adalah upaya menjadikan warisan ekonomi masyarakat sebagai dasar industrialisasi baru.

Cengkeh tidak harus berhenti sebagai bunga kering; pala tidak harus berakhir sebagai biji mentah; kelapa tidak berhenti di kopra; kenari tidak hanya berlaku di pulau; hasil laut tidak tertanam di pasir.

Komoditas rakyat memiliki peluang produk olahan bernilai tinggi: minyak atsiri, bahan baku industri, produk kesehatan dan kosmetik, serta aneka produk bernilai tambah yang dapat memasuki pasar global.

Yang dibutuhkan bukan hanya kemauan petani untuk bekerja—mereka telah bekerja sepanjang generasi. Yang belum cukup hadir adalah sistem industri yang membuat kerja keras mereka memperoleh nilai ekonomi yang adil.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...