Pelantikan HMI Komisariat STKIP: Meneguhkan Ideologi, Mewujudkan Kader Cita

b87aacb5 260c 42b2 a737 d2aaa9f53ead scaled
KOMPAK : Pengurus HMI Komisariat STKIP Kie Raha, usai pelantikan dan rapat kerja pengurus di Aula Kantor Wali Kota Ternate

Ternate, Malutpost — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STKIP Kie Raha Ternate menyelenggarakan pelantikan pengurus dan rapat kerja periode 2026-2027, Rabu (21/10) di Aula Wali Kota Ternate. Pelantikan ini mengusung tema “Leadership Intelligence: Meneguhkan Nilai Ideologis HMI, Mewujudkan Kader Cita.”

Momentum ini menjadi langkah awal bagi kepengurusan di bawah kepemimpinan Faris Tamrin untuk memperkuat ideologi, membangun tradisi intelektual, dan merumuskan arah perjuangan organisasi dalam menjawab tantangan zaman.

Ketua Umum HMI Komisariat STKIP Kie Raha Ternate Faris Tamrin, menegaskan bahwa kader HMI harus kembali merefleksikan sejarah perjuangan organisasi dengan memperkuat komitmen keumatan dan kebangsaan. Menurutnya, misi Islam tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus diwujudkan melalui perjuangan membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan.

Ia menekankan bahwa kader HMI harus berpikir kritis, objektif, dan rasional dalam membaca realitas. Untuk itu, kader perlu memperkuat wawasan intelektual dengan memahami perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang membentuk kehidupan masyarakat modern. Saya merujuk pemikiran Alvin Toffler dalam bukunya (Gelombang Ketiga) dan (Pergeseran Kekuasaan). Pemikiran Toffler menunjukkan bahwa perubahan peradaban turut mengubah sumber kekuasaan, dengan pengetahuan dan informasi menjadi unsur yang semakin menentukan. Dalam konteks perkaderan, kader HMI tidak cukup hanya memiliki idealisme, tetapi juga harus menguasai pengetahuan dan mampu menggunakannya untuk menganalisis persoalan serta merumuskan solusi. Ia juga menyinggung pemikiran John Naisbitt dalam bukunya (Global Paradox), yang menjelaskan paradoks globalisasi: dunia semakin terhubung, tetapi persoalan lokal dan identitas masyarakat tetap memiliki arti penting.

“Kader HMI harus mampu membaca perkembangan global tanpa kehilangan kepekaan terhadap realitas masyarakat di sekitarnya, termasuk persoalan pendidikan, kesehatan, dan ketimpangan sosial. Organisasi kader tidak boleh terjebak dalam rutinitas kegiatan tanpa refleksi dan evaluasi. Perkaderan harus menjadi ruang pembentukan kemampuan intelektual, keteguhan ideologis, dan keberanian mengambil sikap berdasarkan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Demisioner Ketua Umum HMI Komisariat STKIP Kie Raha Ternate, Idan Usia, berharap kepengurusan di bawah kepemimpinan Faris Tamrin mampu melanjutkan estafet perjuangan organisasi dengan memperkuat nilai-nilai ideologis, membangun tradisi intelektual, serta menghadirkan perkaderan yang lebih progresif dan berorientasi pada pembentukan kualitas kader.

“Kepengurusan baru tidak boleh sekadar melanjutkan rutinitas organisasi, tetapi harus berani melakukan pembaruan, membuka ruang kritik, dan menjadikan HMI sebagai rumah intelektual yang mampu melahirkan gagasan serta tindakan nyata bagi umat dan bangsa,” kata Idan.

Idan mengatakna, melalui rapat kerja, pengurus diharapkan mampu merumuskan program yang tidak hanya memperkuat internal organisasi, tetapi juga meningkatkan kualitas kader dan memperluas kontribusi sosial. Budaya diskusi, keterbukaan terhadap kritik, dan evaluasi program perlu menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang sehat dan progresif.

Ketua panitia, Rahmat, bersama seluruh unsur kepanitiaan mengupayakan terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai ruang konsolidasi dan penguatan komitmen organisasi. Pelantikan dan rapat kerja ini diharapkan menjadi titik awal bagi HMI Komisariat STKIP Kie Raha Ternate untuk memperkuat tradisi intelektual dan mengaktualisasikan nilai-nilai perjuangan dalam tindakan nyata. (red/kun)

Komentar

Loading...