Siapa yang Mencuri, Siapa yang Malu?

Roberto Duma Buladja

Keempat pola itu belum termasuk pola kekerasan dan kriminalisasi yang dialami oleh orang Tobelo Dalam (Hongana Manyawa). Kurang lebih 500 dari total sekitar 3.500 jiwa hongana manyawa yang sampai saat ini tidak berkontak dengan dunia luar (Survival International, t.t).

Mereka hidup dengan kelompok-kelompok kecil, dan memanfaatkan alam hutan Halmahera. Akan tetapi, nasib Hongana Manyawa kini terbilang berlapis tragis.

Satu sisi, wilayah (hutan) jelajah mereka terus menyusut karena perluasan area industri pertambangan, ditambah tekanan (represi) dan kriminalisasi yang secara beruntun terus mereka alami (KontraS, 2023; Sawal/Mongabay, 2023).

Akar Perlawanan

Wajar, bilamana pada akhir Oktober 2023, beredar video viral dua laki-laki Hongana Manyawa yang menghampiri sebuah buldoser perusahaan. Keduanya maju dengan membawa tombak dan panah, seakan memberi isyarat agar para pekerja itu pergi menjauh dan tidak merusak rumah mereka.

Jujur, saya tidak tahu persis apa yang ada di kepala dua orang Halmahera itu. Namun, meninjau etika sosial dimana tempat saya dibesarkan, adegan pendek itu jelas-jelas adalah gestur penolakan keras.

Selain Hongana Manyawa, kekerasan juga dialami warga lainnya di sejumlah titik lingkar tambang. Warga adat Maba Sangaji yang mempertahankan hutan mereka dari PT Position ditangkap 27 orang pada Mei 2025, dan mereka justru dituduh melakukan tindakan "premanisme".

Oktober tahun itu juga sebelas (11) dari mereka divonis bersalah dengan pasal 162 UU Minerba, pasal tentang merintangi kegiatan pertambangan (Amnesty International Indonesia, 2025). Di Wayamli, warga menyampaikan hak suara menuntut tambang dihentikan disambut gas air mata (Betahita, 2025).

Di Sagea, ibu-ibu dan anak muda yang mempersoalkan rusaknya karst dipanggil polisi (Sawal/Mongabay, 2026). Di Kawasi, Pulau Obi, warga yang menolak relokasi dilaporkan ke aparat (Kadera.id, 2026).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...