Siapa yang Mencuri, Siapa yang Malu?

Roberto Duma Buladja

Sebab makian itu sudah menjadi pengetahuan publik, dan bahkan jadi bahan pembicaraan sekampung. Hal itu tentu saja telah menyeret seseorang dalam dimensi ‘rasa malu’ yang mendalam, karena ia telah mengambil yang bukan haknya.

Tentang Made

Dalam bahasa Galela, malu disebut made. Orang Tobelo menyebutnya mayeke. Tapi, jangan dikira made ini seperti malu biasa, misalnya, seseorang yang salah pakai baju tatkala ke sebuah acara pesta, atau terlambat masuk kelas.

Bagi para tetua kami, made lebih dekat pada kesadaran dan etika batas. Semacam alarm dalam diri yang terus mengingatkan tentang bagaimana seseorang harus menjaga dan mempertahankan kehormatan diri.

Etika made berlaku dalam berbagai bentuk hubungan sosial. Misalnya tentang bagaimana seharusnya batas hubungan seseorang dengan suami atau istri orang lain, atau tentang cara berkunjung (Galela: Lilila; Tobelo: Rekata) ke rumah orang, dan di dalamnya ada suami atau istri orang (Buladja, 2025).

Ketika hendak turun ke tempat pemandian di telaga atau masuk ke kebun orang lain pun, kita harus berteriak (tigalu) dengan kata uloo…yang kemudian dibalas oee…. disertai tanda untuk mempersilakan turun atau masuk ke tempat itu (Hontong, 2012).

Etika tahu batas ini juga dapat dibaca dalam gestur dan simbol tarian adat, misalnya pada gerakan tangan saat menarikan Tide-Tide. Bagi orang yang sudah menikah pasti “menolakkan” telapak tangannya ke luar. Itu tandanya, "saya sudah punya pasangan, jaga jarak, ya". Begitupun sebaliknya, bila gerakan telapak tangan itu “menarik” masuk ke dalam, itu tanda penerimaan atau ketertarikan.

Akibat paling parah dari made adalah tindakan melukai. Hal ini pernah disampaikan Theoseplianus Sosebeko (66), tetua adat, ketika saya berkunjung ke rumahnya (21/06/2025).

Menurutnya, ma?e bisa berujung pada dua hal, seseorang bisa melukai dirinya sendiri, atau akan melukai orang yang mempermalukannya. Keduanya itu merupakan tindakan ekstrem, dan justru itu menunjukkan betapa serius ma?e tertanam dalam emosi-sosial orang Halmahera.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...