Memaknai Budaya sebagai Jalan Juang dan Jalan Pulang

Akar tersebut bukan untuk membatasi kita dari dunia luar. Justru dengan akar yang kuat, kita dapat berdiri terbuka tanpa harus kehilangan diri.
Karena itu, saya percaya bahwa tugas generasi muda Maluku Utara bukan memilih antara tradisi dan modernitas. Pilihan itu terlalu sederhana. Tugas kita adalah mempertemukan keduanya secara kritis.
Kita harus mampu menjadi generasi yang tidak takut terhadap perubahan, tetapi juga tidak kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua yang baru harus diterima dan tidak semua yang lama harus ditinggalkan.
Kebudayaan tidak boleh hanya menjadi sesuatu yang kita banggakan ketika orang lain bertanya tentang identitas kita. Ia harus menjadi sesuatu yang kita hidupi ketika tidak ada orang yang sedang melihat.
Sebab ukuran kecintaan terhadap budaya bukan seberapa sering kita mengenakan pakaian adat, seberapa ramai kita menyelenggarakan festival, atau seberapa banyak kita mengucapkan kata “melestarikan budaya”.
Ukurannya adalah seberapa jauh nilai-nilai kebudayaan mampu membentuk cara kita memperlakukan manusia, alam, sejarah, dan kehidupan sosial di sekitar kita.
Dari sanalah kebudayaan menemukan maknanya sebagai jalan juang dan jalan pulang. Sebagai jalan juang, ia mengajarkan kita untuk tidak membiarkan identitas dan ingatan masyarakat hilang ditelan zaman.
Sebagai jalan pulang, ia mengingatkan kita bahwa sejauh apa pun kita melangkah, selalu ada sesuatu yang perlu kita kenali kembali dalam diri kita sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat berubah, pertanyaan paling penting bukan lagi apakah kebudayaan Maluku Utara mampu bertahan, tetapi apakah generasi mudanya masih bersedia berjalan bersamanya.(*)

Komentar