Memaknai Budaya sebagai Jalan Juang dan Jalan Pulang

M. Tamhir Tamrin

Padahal, budaya tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak bersama manusia. Ia mengalami perubahan, bernegosiasi dengan zaman, menerima pengaruh dari luar, dan menemukan bentuk-bentuk baru dalam kehidupan masyarakat.

Maka, menjaga kebudayaan tidak berarti membekukannya dalam bentuk masa lalu. Kebudayaan harus diberi ruang untuk hidup. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, generasi muda Maluku Utara hidup dalam situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Kita dapat mengakses berbagai bentuk pengetahuan dan budaya dari seluruh dunia hanya melalui layar telepon genggam. Musik, bahasa, gaya hidup, cara berpakaian, bahkan cara berpikir datang silih berganti. Tidak ada yang salah dengan keterbukaan itu.

Masalahnya muncul ketika keterbukaan membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Kita bisa mengenal budaya dari berbagai belahan dunia, tetapi gagap ketika ditanya tentang kebudayaan di tanah sendiri.

Kita hafal banyak istilah dari luar, tetapi semakin jarang menggunakan bahasa daerah. Kita mampu mengikuti perkembangan musik dan tren global, tetapi kesenian lokal hanya muncul ketika ada perlombaan atau agenda seremonial. Kita mengenal sejarah melalui media sosial, tetapi tidak lagi memiliki ketertarikan untuk membaca sejarah masyarakat sendiri.

Di titik inilah kebudayaan menjadi persoalan yang lebih serius daripada sekadar persoalan kesenian. Kebudayaan adalah persoalan keberadaan.

Sebab ketika sebuah masyarakat kehilangan ingatan tentang dirinya, ia akan lebih mudah menerima segala sesuatu tanpa kemampuan untuk mempertanyakan apakah sesuatu itu sesuai dengan nilai yang mereka miliki.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi konsumen kebudayaan. Kita harus menjadi pembaca, pelaku, sekaligus pengkritik kebudayaan itu sendiri.

Baca Halaman Selanjuntya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...