Memaknai Budaya sebagai Jalan Juang dan Jalan Pulang

M. Tamhir Tamrin

Budaya harus masuk ke ruang kehidupan. Ia harus hadir di sekolah, kampus, ruang publik, komunitas, media, karya seni, penelitian, bahkan dalam cara kita membangun hubungan sosial. Anak muda harus diberi kesempatan untuk mengenal kebudayaannya dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Kebudayaan tidak harus selalu disampaikan dengan cara lama. Cerita rakyat dapat dibicarakan melalui film. Sejarah dapat dikembangkan menjadi karya sastra. Musik tradisional dapat berjumpa dengan bentuk musik kontemporer.

Pengetahuan lokal dapat menjadi bahan penelitian. Ruang digital dapat digunakan untuk mendokumentasikan bahasa, cerita, kesenian, dan ingatan masyarakat. Di situlah kebudayaan menemukan relevansinya. Kita tidak sedang berusaha membawa masyarakat kembali ke masa lalu. Kita justru sedang berusaha agar masa lalu memiliki tempat dalam masa depan.

Bagi saya, budaya adalah jalan juang karena melalui kebudayaan kita dapat memperjuangkan ingatan, identitas, pengetahuan, dan martabat masyarakat. Ketika bahasa daerah mulai ditinggalkan, mempertahankannya adalah perjuangan.

Ketika sejarah lokal mulai dilupakan, mempelajarinya adalah perjuangan. Ketika kesenian lokal hanya dianggap sebagai pelengkap seremoni, memberikan ruang hidup kepadanya adalah perjuangan. Ketika masyarakat adat dan pengetahuan lokal berhadapan dengan perubahan sosial yang begitu cepat, mendengarkan dan memahami mereka juga merupakan perjuangan.

Tetapi budaya juga merupakan jalan pulang. Pulang bukan berarti kembali secara fisik ke sebuah tempat. Pulang adalah kembali mengenali siapa kita setelah berjalan begitu jauh mengikuti perubahan zaman.

Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, pengetahuan boleh datang dari mana saja, tetapi manusia tetap membutuhkan akar agar tidak kehilangan arah.

Bagi orang Maluku Utara, akar itu dapat ditemukan dalam ingatan tentang tanah, laut, bahasa, sejarah, kesenian, keluarga, komunitas, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh mereka yang hidup sebelum kita.

Baca Halaman Selanjuntya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...