Menyalakan Lampu Sejarah, Membangun Episentrum Ekonomi Dunia di Atas Lumpur Weda

Mengenang Sang Arsitek Teknokrat

M. Basry Hamaya

Aba Acim mengajari kita sebuah pelajaran berharga tentang hakikat kekuasaan, bahwa hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin tidak harus dibangun di atas panggung ketakutan atau jarak otoritas yang kaku.

Beliau membuktikan bahwa wibawa seorang pemimpin justru memancar kuat ketika bawahannya merasa dihargai secara utuh sebagai manusia.

Beliau bisa berdiri tegak menghadapi risiko politik paling ekstrem demi kemajuan Weda, namun di saat yang sama mampu duduk bersila di lantai rumah warga tanpa sekat, mendengarkan keluh kesah dengan kesederhanaan yang bersahaja. Beliau mampu memberikan perintah tanpa pernah menanggalkan rasa kemanusiaan.

Kini, Sang Legenda telah menyelesaikan tugas sejarahnya di dunia. Kadang, muncul rasa haru yang sarat akan nestapa andai Aba Acim masih ada di tengah-tengah kita hari ini untuk menyaksikan Weda yang telah bertransformasi total.

Seandainya beliau berdiri di Teluk Weda hari ini, memandangi lampu-lampu industri yang menyala benderang menantang malam, melihat pelabuhan yang sibuk, dan pasar yang berdenyut kencang, beliau mungkin hanya akan tersenyum kecil dengan keteduhan khasnya lalu berbisik lirih,

"Dulu, kita mulai semuanya dari sini, ini samua soki-soki" sebuah kalimat sederhana yang pasti akan membuat kita semua terdiam, tertunduk, dan menyadari betapa besarnya utang budi generasi hari ini kepada generasi yang berani memulai ketika segala sesuatunya belum tersedia.

Jabatan politik, kursi bupati, maupun pangkat wakil gubernur memiliki batas waktu yang mutlak oleh regulasi. Namun, karya yang melahirkan manfaat masif bagi hajat hidup orang banyak memiliki umur yang jauh lebih panjang dari umur biologis manusia itu sendiri.

Jalan-jalan yang dahulu beliau rintis akan terus dilewati, gedung-gedung yang dahulu beliau perjuangkan di atas lumpur akan terus melayani masyarakat.

Selamat jalan, Aba Acim. Selamat jalan, Sang Arsitek Teknokrat. Warisanmu telah tertanam abadi di dalam memori kolektif tanah Fagogoru. Selama Weda masih berdiri menantang zaman, nama dan dedikasimu akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup di hati kami. Al-Fatihah. (*) 

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...