Menyalakan Lampu Sejarah, Membangun Episentrum Ekonomi Dunia di Atas Lumpur Weda

Mengenang Sang Arsitek Teknokrat

M. Basry Hamaya

Istilah "akrobat" yang disematkan pada langkah beliau bukanlah bermakna negatif. Ia adalah metafora dari kemampuan luar biasa almarhum dalam memainkan banyak peran secara simultan, menjadi birokrat yang patuh aturan, teknokrat yang jeli mengalkulasi ruang, politisi yang andal menerjang badai kekuasaan, sekaligus pemimpin yang peka terhadap keterbatasan fiskal daerah.

Beliau memaksa aparatur negara untuk mulai berkantor di Weda, mengikis skeptisisme publik, dan membangun kepercayaan masyarakat bahwa rawa berlumpur ini kelak akan menjadi episentrum masa depan Halmahera Tengah.

Namun, kekuatan terbesar dari arsitektur pembangunan almarhum tidak terletak pada kekuatan adukan semen atau ketebalan aspal, melainkan pada akar budayanya.

Almarhum adalah pengejawantahan sejati dari nilai-nilai filosofis Fagogoru sebuah konsep kearifan lokal yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, rasa malu, gotong royong, dan kasih sayang antar-sesama manusia.

Nilai inilah yang membuat pembangunan di bawah arahannya tidak kehilangan jiwa manusianya. Beliau tumbuh dari ruang sosial masyarakat tersebut, sehingga setiap keputusan teknis yang beliau ambil selalu mempertimbangkan watak sosial dan keadilan bagi masyarakat adat serta lokal yang mendiami bumi Fagogoru.

Nestapa Kehilangan dan Warisan yang Kekal

Di sinilah kita harus berhenti sejenak dari deretan angka statistik pertumbuhan ekonomi dan megahnya bangunan beton. Nestapa terdalam atas kepergian almarhum justru dirasakan secara intim oleh mereka yang pernah berjalan beriringan bersamanya di dalam birokrasi maupun mereka yang mengetuk pintu rumahnya di kala malam sunyi.

Bagi rekan kerja dan rakyatnya, beliau memiliki nama panggil yang jauh lebih sederhana, dekat, dan penuh kehangatan: "Aba Acim". Nama inilah yang hari ini menyisakan kerinduan yang mengiris hati.

Kehilangan seorang tokoh besar seperti Aba Acim adalah tipe kehilangan yang membuat kita tersadar, bahwa kita ingin mendengar suaranya memberikan nasihat sekali lagi namun suara itu telah terkunci menjadi memori, kita ingin duduk berdiskusi dengannya sekali lagi, namun kursi kayu tempatnya menerima tamu kini telah kosong melompong.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...